Logo Bloomberg Technoz

Ihwal rencana penerapan wajib pasok domestik atau domestic market obligation (DMO) komoditas emas, Tri enggan mengungkapkan perkembangan kajian dari rencana kebijakan tersebut.

“Belum, belum,” ucap dia.

Kereta gantung melintas di atas kabel di kompleks tambang tembaga dan emas Grasberg milik Freeport Indonesia di Papua./Bloomberg-Dadang Tri

Sebelumnya, Tri memberikan sinyal DMO komoditas emas bisa saja diterapkan terbatas hingga pasokan dari PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dan Freeport Indonesia pulih.

Tri mengaku belum memutuskan skema penerapan DMO emas dan belum menentukan apakah kebijakan untuk mengamankan pasokan emas domestik tersebut akan diterapkan atau batal.

Dia hanya melemparkan sinyal jika kebijakan DMO emas diterapkan dan akhirnya pasokan emas AMMN dan PTFI pulih, diperlukan regulasi baru yang menganulir aturan DMO emas.

“Kalau misalnya nanti kita DMO-kan, terus kemudian Freeport jalan, Amman jalan, ganti regulasi juga lagi,” kata Tri ketika ditemui awak media, di kantor Kementerian ESDM, akhir bulan lalu.

Di sisi lain, Tri menegaskan pemerintah sudah melakukan pembatasan ekspor emas dengan memberikan syarat bahwa emas yang dapat diekspor yakni yang memiliki kadar 99,9%.

Adapun, wacana kebijakan DMO emas digulirkan Kementerian ESDM untuk menjadi salah satu opsi mengatasi tingginya impor emas PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam yang mencapai 30 ton emas per tahun.

Sekadar catatan, Freeport-McMoRan Inc. (FCX) melaporkan berdasarkan hasil eksplorasi terbaru Freeport, cadangan tembaga yang dapat diekstraksi di tambang Kucing Liar hingga 2041 diprediksi meningkat menjadi 8 miliar pon dan emas menjadi 8 juta ons.

Besaran tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan perkiraan cadangan sebelumnya, yakni tembaga sebesar 7 miliar pon dan emas 6 juta ons.

Dalam laporan kinerja FCX, dijelaskan bahwa nantinya produksi rata-rata dari Kucing Liar pada kapasitas penuh mencapai 750 juta pon tembaga dan 735.000 ons emas atau lebih tinggi 35% dari perkiraan sebelumnya.

“Selama 2025, PTFI menyelesaikan studi untuk mengevaluasi potensi perluasan area tambang yang sebelumnya dirancang untuk beroperasi pada tingkat jangka panjang 90.000 ton bijih per hari,” tulis manajemen FCX dalam dokumen resminya, akhir pekan lalu.

“Studi tersebut mengidentifikasi peluang perluasan biaya rendah untuk meningkatkan kapasitas desain Kucing Liar menjadi 130.000 ton bijih per hari dan meningkatkan cadangan Kucing Liar sekitar 20%,” kata manajemen FCX.

Adapun, FCX melaporkan pada 31 Desember 2025 Freeport Indonesia telah mengeluarkan dana sekitar US$1,1 miliar untuk Kucing Liar. Sementara itu, investasi modal yang diperlukan, diperkirakan bertambah US$4 miliar hingga 2033.

FCX menargetkan produksi awal dari tambang Kucing Liar mulai berjalan dan ditingkatkan secara bertahap mulai 2030.

(azr/wdh)

No more pages