Laode mengklaim aliran gas ke Blok Rokan akan pulih secara maksimal dalam dua hari mendatang, sehingga produksi Blok Rokan bakal kembali normal.
“Kemarin saya komunikasi Informasinya dalam 2 hari ke depan [bakal normal],” tegas dia.
Gegara hilangnya produksi Blok Rokan sebesar 2 juta barel, Laode menyatakan pemerintah perlu menambah produksi minyak sebesar 5.000 hingga 6.000 bph agar target produksi siap jual atau lifting minyak nasional pada 2026 sebanyak 610.000 bph tercapai.
Sebelumnya, Kementerian ESDM tengah memantau dampak kebocoran pipa gas milik PT TGI yang berada di Indragiri Hilir, Riau.
Terlebih, pipa gas tersebut mengaliri gas ke pembangkit listrik di wilayah Rokan, yang sebagian besar listriknya dialirkan ke wilayah Blok Rokan milik PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM menyatakan akan turun ke lapangan untuk mengecek kebocoran tersebut dan memantau dampaknya terhadap produksi minyak Blok Rokan.
“Jadi kita akan cek, di wilayah Indragiri Hilir memang ini harus cepat kita selesaikan karena berdampak pada produksi minyak nasional,” kata Laode ketika ditemui pada kesempatan terpisah di kawasan Jakarta Selatan, Senin (5/1/2026).
Insiden kebocoran pipa gas milik TGI terjadi di jalur pipa Grissik—Duri yang berada di Desa Batu Ampar, Indragiri Hilir, Riau.
Dalam kesempatan sebelumnya, anggota komite BPH Migas Erika Retnowati mengatakan kebocoran pipa gas tersebut terjadi pada Jumat (2/1/2026) sore.
Erika mengungkapkan saat ini perbaikan pipa gas tersebut sedang dilakukan dan diharapkan bisa kembali beroperasi pada Rabu (7/1/2026).
“Terdapat kebocoran pipa gas pada 2 Januari yang saat ini tengah diperbaiki dan diharapkan bisa dapat segera beroperasi pada 7 Januari 2026,” kata Erika dalam kesempatan yang sama.
Sekadar catatan, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan mencatatkan lifting minyak di Blok Rokan hingga akhir 2024 sebanyak 58 juta barel. Keseluruhan minyak tersebut disalurkan ke kilang domestik milik Pertamina.
Sejak alih kelola WK Rokan dari PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) ke Pertamina pada 9 Agustus 2021, PHR mencatatkan 1.539 tajak sumur baru. Per akhir 2024, PHR menghasilkan produksi di atas 160.000 bph.
Adapun, rata-rata produksi Blok Rokan adalah sekitar 160.500 bph, atau sekitar 24% dari produksi nasional pada akhir Juli 2021, sebelum alih kelola dari Chevron ke Pertamina.
Pada 2023, Blok Rokan berhasil menyalip capaian produksi minyak dari Lapangan Banyu Urip Blok Cepu yang dioperatori oleh ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL). Menurut SKK Migas, produksi minyak Blok Rokan mencapai 167.000 bpj, sedangkan Blok Cepu 140.000 bph per akhir 2023.
Pada medio 2024, Kementerian ESDM mencatat Blok Rokan mampu menyumbang produksi minyak tertinggi di Indonesia yakni sebanyak 161.623 bph.
(azr/wdh)






























