Trump pekan ini menyerang Macron karena tidak bergabung dengan Dewan Perdamaiannya dan mengancam tarif 200% pada anggur Prancis. Dia juga mempublikasikan pesan teks dari Macron—yang ditujukan kepada "Teman saya"—di media sosial, di mana pemimpin Prancis itu mengundang Trump untuk makan malam di Paris dan bertemu dengan pemimpin dari Ukraina, Suriah, Denmark, dan Rusia pada Kamis.
Akhir pekan lalu, Presiden AS mengumumkan tarif 10% atas barang-barang dari delapan negara Eropa mulai 1 Februari, naik menjadi 25% pada Juni, kecuali ada kesepakatan "pembelian Greenland." Trump mengeluarkan ancaman tersebut setelah sekutu-sekutunya mengatakan mereka akan melakukan latihan perencanaan militer NATO simbolis di wilayah semi-otonom Denmark tersebut.
Akibat ancaman Trump, Uni Eropa secara efektif menangguhkan ratifikasi perjanjian dagang yang disepakati dengan AS musim panas lalu. Perjanjian, yang dikritik di Eropa karena tidak adil, membuat blok tersebut setuju menghapus hampir semua tarif atas produk AS sambil dikenai tarif 15% atas sebagian besar ekspor ke AS dan 50% atas baja dan aluminium.
Macron memperingatkan bahwa kebijakan dagang Trump merusak kepentingan ekspor Eropa dan "menuntut konsesi yang maksimal." Ia mendesak Eropa agar tidak menerima "pendekatan neo-kolonial."
Presiden Prancis juga melontarkan beberapa sindiran halus terhadap Trump, memulai pidatonya dengan mengatakan "ini adalah masa damai, stabilitas, dan kepastian," yang disambut tawa hadirin.
Uni Eropa juga mempertimbangkan untuk mengenakan tarif pada barang-barang AS senilai €93 miliar (US$108 miliar) jika Trump menindaklanjuti ancamannya. Langkah tersebut akan diberlakukan paling cepat pada 7 Februari dan menyasar barang-barang industri AS, termasuk pesawat Boeing Co, mobil buatan AS, dan bourbon.
"Tidak ada alasan yang baik bagi Uni Eropa sangat takut akan ancaman tarif AS," kata Agathe Desmarais, peneliti senior di lembaga think tank ECFR, dalam pernyataan tertulis. "Tarif AS adalah pajak bagi perusahaan dan konsumen AS: importir AS, bukan eksportir di luar negeri, menanggung 96% biaya tarif."
Macron menyerukan agar Uni Eropa menggunakan Anti-Coercion Instrument (ACI), yang memberikan wewenang pada pejabat untuk membatasi akses ke pasar Uni Eropa. ACI, yang belum pernah digunakan, dirancang terutama sebagai pencegah, dan jika diperlukan, untuk menanggapi tindakan paksa yang disengaja dari negara ketiga yang menggunakan perdagangan sebagai senjata untuk menekan kebijakan Uni Eropa atau anggotanya.
ACI bisa mencakup tarif, pajak baru bagi perusahaan teknologi, atau pembatasan investasi yang ditargetkan di Uni Eropa. Langkah-langkah tersebut juga akan melibatkan pembatasan akses ke bagian tertentu pasar Uni Eropa atau pembatasan perusahaan untuk mengajukan tender kontrak publik di Eropa.
Apa Kata Bloomberg Economics...
"Tarif Trump—termasuk tarif yang sudah ada dan tambahan 10%—akan memangkas ekspor dari negara-negara menjadi sasaran ke AS hingga 50%."
—Nicole Gorton-Caratelli, Antonio Barroso, dan Maeva Cousin.
Para pemimpin Eropa berencana mengadakan pertemuan darurat pada Kamis untuk membahas tanggapan mereka terhadap ancaman Trump.
Dalam pidatonya, Macron juga menawarkan alternatif terhadap upaya Trump mengacaukan sistem geopolitik internasional. "Jangan menerima tatanan global yang akan ditentukan oleh mereka yang mengklaim memiliki suara terbesar atau tongkat terkuat," katanya.
"Kami lebih memilih rasa hormat daripada penindasan; kami lebih memilih sains daripada relativisme; dan kami lebih memilih supremasi hukum daripada kebrutalan," ungkap Macron. "Anda dipersilakan ke Eropa, dan Anda lebih dipersilakan di Prancis."
(bbn)



























