Tingginya permintaan pemanasan menyebabkan emisi dari bangunan naik sebesar 56 juta ton metrik, atau 6,8%, menurut laporan tersebut. Emisi sektor listrik naik sebesar 3,8%, mencerminkan peningkatan penggunaan listrik dan pembakaran batu bara yang lebih banyak.
Secara global, emisi karbon dioksida diperkirakan mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025. Peningkatan emisi di AS kemungkinan menjadi faktor utama dalam hal ini, kata Climate Trace, organisasi nirlaba yang didukung oleh Eks Wakil Presiden AS Al Gore, dalam laporan yang dirilis musim panas lalu.
Sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu, pemerintahannya telah mencabut insentif pajak untuk energi bersih dan kendaraan listrik, mencoba menghambat beberapa proyek energi terbarukan, dan mendorong percepatan produksi bahan bakar fosil. Namun, analis mengatakan bahwa kebijakan pemerintahan Trump tidak secara signifikan mempengaruhi emisi pada tahun 2025.
“Kami belum melihat dampak langsung dari perubahan kebijakan ini pada emisi AS,” tulis Gaffney dan rekan penulisnya Ben King. “Hal itu bisa berubah dalam satu atau dua tahun ke depan, terutama jika permintaan listrik pusat data terus melonjak dan jaringan listrik merespons dengan meningkatkan output dari pembangkit bahan bakar fosil yang sudah ada daripada sumber bersih baru.”
Dalam laporan juga menyebutkan bahwa melacak emisi di masa depan akan lebih sulit, setelah pemerintahan menghentikan pengumpulan data tertentu terkait perubahan iklim.
“Hilangnya data ini berarti kita memasuki wilayah yang lebih kabur dalam memahami negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedua di dunia,” tulis Gaffney dan King.
(bbn)































