Trump telah mendorong perusahaan minyak AS untuk kembali ke Venezuela dan meningkatkan produksi, namun sejumlah perusahaan—termasuk Exxon Mobil Corp. dan TotalEnergies SE dari Prancis—bersikap skeptis terhadap percepatan peningkatan produksi.
Setiap pendekatan Adnoc di Venezuela akan dilakukan melalui XRG, lengan investasi internasionalnya, menurut sumber tersebut. Perusahaan mengatakan pada Kamis bahwa mereka tidak mengomentari spekulasi pasar.
Bagi XRG, masuk ke Venezuela akan menjadi dorongan lain untuk ekspansi gas secara global.
Perusahaan menjadikan gas sebagai pilar utama rencana ekspansi luar negeri bernilai miliaran dolar, dengan pembicaraan yang masih berlangsung untuk mengambil saham di proyek LNG di Argentina setelah kesepakatan di AS, Afrika, dan Asia Tengah.
Abu Dhabi bertaruh pada permintaan gas dan bahan kimia yang akan bertahan lama, seiring transisi energi diperkirakan memperlambat pertumbuhan konsumsi minyak dalam beberapa dekade ke depan.
Didukung kekayaan minyak emirat tersebut, XRG membeli saham di proyek Rio Grande LNG milik NextDecade Corp. yang sedang dibangun di Texas Selatan, dan tahun lalu menyelesaikan akuisisi Covestro AG dari Jerman.
XRG juga mencari pasokan yang dapat dengan mudah menjangkau Asia setelah tahun lalu membatalkan penawaran senilai US$19 miliar untuk Santos Ltd. dari Australia, yang seandainya berhasil akan melambungkan XRG ke jajaran teratas produsen LNG.
Mencari Mitra
Di Venezuela, perusahaan akan mencari mitra internasional lain yang memiliki keahlian regional.
Sebagai imbalannya, XRG akan mengandalkan pendapatan minyak Abu Dhabi yang sangat besar untuk membiayai miliaran dolar yang dibutuhkan guna menghidupkan kembali produksi Venezuela.
Meski terutama dikenal karena cadangan minyaknya yang besar, Venezuela memiliki lebih dari dua pertiga cadangan gas Amerika Selatan, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA).
Sebagian besar merupakan apa yang dikenal sebagai associated gas, yaitu gas yang dihasilkan bersamaan dengan produksi minyak. Sejumlah perusahaan sudah memiliki proyek untuk memanfaatkan gas tersebut, tetapi sebagian besarnya saat ini masih dibakar (flared).
Bahkan sebelum langkah terbaru Trump terkait Venezuela, Shell Plc telah menyiapkan rencana untuk merevitalisasi sebuah lapangan di negara itu setelah serangkaian perjanjian yang terhenti-henti akibat sanksi.
Pengembangan sumber daya Venezuela juga dapat memungkinkan perusahaan Eropa tersebut—yang sudah bekerja sama dengan Adnoc dalam pemrosesan gas dan fasilitas ekspor LNG di negara itu—untuk berpotensi memasok terminal di Trinidad dan Tobago yang bertetangga.
Produsen Eropa lainnya, termasuk Repsol SA dari Spanyol dan Eni SpA dari Italia, sudah memproduksi gas di Venezuela; keduanya beroperasi di lapangan lepas pantai Perla.
Di UEA, Eni tengah mengembangkan salah satu proyek gas lepas pantai terbesar Abu Dhabi dan memiliki usaha patungan di bidang pengilangan dan perdagangan bahan bakar.
Ketiga perusahaan Eropa tersebut menghadiri pertemuan di Gedung Putih yang digelar oleh Trump untuk membahas opsi menghidupkan kembali industri energi Venezuela.
(bbn)

























