Penyelidikan yang dimulai April lalu di bawah Pasal 232 Undang-Undang Perluasan Perdagangan ini menyimpulkan bahwa impor mineral kritis yang telah diproses memang membahayakan keamanan nasional AS, mengingat peran vitalnya bagi industri pertahanan.
Keputusan untuk tidak segera memberlakukan tarif dipandang sebagai sinyal bahwa pemerintahan Trump ingin menghindari destabilisasi gencatan perang dagang dengan Presiden China Xi Jinping yang disepakati musim gugur lalu. Dalam kesepakatan tersebut, kedua belah pihak berjanji untuk menurunkan tarif impor dan melonggarkan kontrol ekspor.
Trump berada di bawah tekanan besar untuk merespons China, yang saat ini merupakan pengolah mineral kritis terbesar di dunia. Tahun lalu, Beijing sempat membatasi akses terhadap logam tanah jarang yang krusial bagi teknologi canggih di tengah sengketa perdagangan.
Secara lebih luas, kewenangan Pasal 232 yang menjadi dasar penyelidikan mineral ini dipandang sebagai cara bagi pemerintahan Trump untuk membangun kembali rezim tarifnya, jika Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global yang diterapkan Trump.
Batas Bawah Harga
Proklamasi Trump menegaskan bahwa AS akan mempertimbangkan penerapan batas bawah harga dalam perdagangan mineral kritis, termasuk kemungkinan “harga impor minimum” untuk material tertentu serta potensi tarif di masa depan guna mengurangi kerentanan rantai pasok.
Untuk saat ini, Trump masih menahan penggunaan instrumen tersebut. Namun berdasarkan proklamasi Rabu itu, ia dapat memberlakukan tarif terhadap mineral kritis dari negara-negara yang memasok dengan harga yang dinilai terlalu rendah secara artifisial. Langkah ini secara efektif akan menaikkan biaya impor hingga ke tingkat yang dapat menopang produksi dari negara lain yang memasok ke AS, kata seorang sumber yang memahami pendekatan tersebut.
Strategi ini mirip dengan pengenaan bea dalam kasus dagang anti-dumping dan anti-subsidi, di mana tarif akhir biasanya disesuaikan untuk melawan subsidi atau harga rendah yang tidak wajar dari pemasok asing, sekaligus melindungi produsen domestik. Dalam konteks ini, tarif potensial terhadap sejumlah negara justru dapat berfungsi untuk memperkuat — dan menciptakan batas bawah harga yang efektif — bagi pemasok mineral kritis asing lainnya.
Nick Iacovella, wakil presiden eksekutif Coalition for a Prosperous America, kelompok yang mendukung manufaktur dalam negeri, menyambut baik proklamasi Trump. “Pendekatan ini memberi keyakinan yang dibutuhkan para produsen Amerika untuk berinvestasi, berekspansi, dan membangun kembali rantai pasok kritis di dalam negeri,” ujarnya melalui email.
Langkah yang diumumkan Rabu ini juga berpotensi berdampak pada uranium, yang kian diminati seiring upaya AS mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir guna memenuhi lonjakan kebutuhan listrik untuk kecerdasan buatan. Dalam proklamasi tersebut, uranium disebut sebagai salah satu mineral kritis “yang menjadi andalan sektor energi.”
Namun, tantangan besar yang harus dihadapi pemerintah AS jika tarif akhirnya diberlakukan adalah minimnya produksi domestik untuk sebagian besar bahan baku tersebut.
Selama ini, para ahli hukum perdagangan berpendapat bahwa tarif diperlukan untuk melindungi industri yang sudah ada dan dapat berkembang jika didukung oleh kebijakan yang mencegah negara asing membanjiri pasar AS dengan pasokan berlebih untuk menyingkirkan perusahaan Amerika.
Dengan China memproses lebih dari 80% unsur tanah jarang dunia, serta Kazakhstan menyumbang sebagian besar pasokan uranium global, masih belum jelas bagaimana perusahaan AS akan diuntungkan, mengingat terbatasnya produksi dalam negeri memaksa mereka tetap bergantung pada pasokan dari luar negeri.
(bbn)






























