Meskipun menghadapi sentimen negatif global, para eksportir China tetap agresif mencari pelanggan di pasar lain ketika pengiriman ke Amerika Serikat (AS) anjlok akibat kebijakan kenaikan tarif oleh Presiden Donald Trump. Di sisi lain, kemerosotan sektor properti yang telah berlangsung bertahun-tahun serta turunnya angka investasi telah menahan nafsu China terhadap barang-barang impor.
Ke depan, permintaan global terhadap produk China serta daya saing ekspornya diperkirakan akan terus menjaga tren kenaikan pengiriman ke luar negeri pada 2026, terutama jika gencatan perang dagang dengan AS terus berlanjut.
Namun, stabilitas ini sedang terancam. Pekan ini, Trump mengumumkan tarif baru bagi negara-negara yang berdagang dengan Iran. Kebijakan ini berpotensi merusak gencatan perang dagang satu tahun yang telah disepakati dengan China, yang merupakan pembeli utama minyak Iran di dunia.
Risiko lain juga membayangi. Ketegangan terkait membanjirnya barang-barang China meningkat dengan mitra dagang utama seperti Eropa. Selain itu, basis perbandingan yang tinggi pada tahun lalu membuat pertumbuhan ekspor kemungkinan melambat dalam beberapa bulan ke depan.
Pemerintah China juga mulai mengekang ekspor sejumlah produk guna meredakan ketegangan dagang sekaligus sebagai bagian dari upaya mengatasi kelebihan kapasitas di beberapa sektor industri yang menambah tekanan deflasi terhadap perekonomian.
Otoritas setempat akan membatalkan insentif pengembalian pajak ekspor untuk ratusan produk, termasuk sel surya dan baterai, mulai April, sesuai pengumuman resmi pada Jumat.
Yuan secara umum diperkirakan terus menguat secara bertahap terhadap dolar AS, meski mata uang tersebut melemah lebih dari 7% terhadap euro sepanjang tahun lalu. Dengan mempertimbangkan deflasi domestik dan pertumbuhan harga yang lebih tinggi di negara lain, nilai tukar efektif riil — indikator daya saing barang-barang China — berada di level terlemah dalam beberapa tahun terakhir.
(bbn)






























