Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Loyo, BI Salahkan Tekanan Keuangan Global & Geopolitik

Redaksi
14 January 2026 10:00

Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah sejak awal pergantian tahun baru, bahkan sempat ke level terlemah sepanjang masa, Rp16.878/US$ pada perdagangan pasar spot Selasa (13/1/2026) kemarin.

Depresiasi rupiah melampaui pelemahan pada April 2025 di Rp16.870/US$. Juga masa krisis 1998 di Rp16.650/US$.

Pada pembukaan perdagangan pasar spot hari ini, Rabu (14/1/2026), rupiah menguat terbatas 0,13% ke level Rp16.843/US$  Namun, tak berselang lama, rupiah kembali melemah 0,01% ke Rp16.867/US$. Penguatan terbatas di awal sesi ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah belum reda.


Menanggapi kondisi tersebut, Erwin G. Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) menilai pergerakan mata uang global, termasuk Indonesia, pada awal 2026 banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia. 

Bank Indonesia mengklaim tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, dan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju. Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve di Amerika Serikat (AS) ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun.