Logo Bloomberg Technoz

"Kondisi ini mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04% secara year-to-date (tahun kalender)," ujar Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).

Meskipun demikian, bank sentral mengklaim pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%.

BI akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. 

"BI akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas," tutur Erwin.

BI mengaku telah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas rupiah.

"Ini sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yg tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 basispoin," kata Erwin.

Menurut dia, ketahanan eksternal juga tetap baik, tercermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar US$156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai penopang dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.

Dalam kesempatan berbeda, Bank Dunia atau World Bank menilai gejolak politik dan pelonggaran kebijakan moneter yang dipercepat menyebabkan arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia, sehingga menyebabkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dalam laporan World Bank bertajuk 'Global Economic Prospects' yang terbit Januari 2026, Bank Dunia mengingatkan Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi lebih dalam terkait kondisi pelemahan rupiah tersebut.

“Di Indonesia, gejolak politik singkat dan pelonggaran kebijakan moneter yang dipercepat menyebabkan arus keluar modal dan depresiasi rupiah, yang membutuhkan intervensi bank sentral,” demikian tercantum dalam laporan Bank Dunia yang dirilis Rabu (14/1/2026).

(lav)

No more pages