“Melalui Danantara, kami mendorong investasi jangka panjang dengan tata kelola yang kuat dan prinsip keberlanjutan, agar nilai strategis sumber daya Indonesia tumbuh dan tetap berada di dalam negeri,” tegas dia.
Sekadar informasi, Antam dan IBC memang terlibat dalam pengembangan pabrik baterai listrik terintegrasi garapan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) yakni proyek Dragon, serta proyek baterai EV terintegrasi besutan konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt Co yakni proyek Titan.
Sebelumnya, Bahlil menargetkan pabrik baterai mobil listrik terintegrasi besutan CATL tersebut beroperasi pada semester I-2026.
Proyek rakitan baterai kendaraan listrik itu menjadi bagian hilir dari kesepakatan kerja sama CATL bersama dengan IBC, yang belakangan disebut dengan Proyek Dragon.
Investasi raksasa baterai China itu pada Proyek Dragon dilakukan lewat Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai setrum.
Belakangan, IBC bersama dengan konsorsium CBL telah menandantangani sejumlah usaha patungan atau joint venture (JV) pada beberapa tahap bisnis baterai setrum itu dari sisi hulu atau upstream tambang, antara atau midstream, sampai hilir atau downstream berupa pabrik sel baterai.
Di sisi hulu, terbentuk 3 usaha patungan di antaranya PT Sumber Daya Arindo (SDA), yang mengelola tambang nikel. Antam memegang 51% saham sementara sisanya dipegang afiliasi CBL, Hongkong CBL Limited (HKCBL).
Selanjutnya, usaha patungan di sisi rotary kiln electric furnace (RKEF) dan kawasan industri lewat PT Feni Haltim (PFT), dengan porsi saham Antam 40%.
Sementara itu, Antam memegang saham 30% untuk usaha patungan pabrik hidrometalurgi atau high pressure acid leach (HPAL).
Selanjutnya, usaha patungan lainnya dikerjakan IBC bersama dengan CBL meliputi bahan baku baterai, perakitan sel baterai hingga daur ulang.
IBC cenderung memiliki saham minoritas pada lini kerja sama midstream sampai hilir ini.
IBC memegang saham 30% untuk proyek pengolahan bahan baku baterai dan perakitan sel baterai. Sementara itu, IBC mendapat bagian 40% saham untuk usaha patungan di sisi daur ulang baterai.
Sementara proyek Titan, dirancang sebagai ekosistem baterai terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari tambang, fasilitas pengolahan nikel HPAL, prekursor, katoda, hingga pabrik sel baterai dan fasilitas daur ulang.
Namun, hingga kini, posisi dan porsi Indonesia dalam proyek tersebut masih belum final. Bahlil sebelumnya menjelaskan bahwa BUMN melalui Antam memegang kendali 51% di lini hulu proyek tersebut.
Akan tetapi, di lini antara dan hilir, porsi Indonesia melalui IBC hanya di angka 30%. Pemerintah saat ini tengah berupaya menegosiasikan peningkatan kepemilikan di lini hilir BUMN di Proyek Titan melalui partisipasi Danantara.
Groundbreaking proyek tersebut sempat ditargetkan dilakukan pada akhir tahun 2025, namun hingga kini masih belum terdapat kepastian ihwal peletakan batu pertama proyek ekosistem baterai mobil listrik tersebut.
(azr/ros)




























