Logo Bloomberg Technoz

Powell mengatakan tindakan tersebut sebenarnya tentang "apakah The Fed akan bisa terus menetapkan suku bunga berdasarkan bukti dan kondisi ekonomi, atau apakah kebijakan moneter akan dipengaruhi oleh tekanan politik atau intimidasi."

Dalam hal apa The Fed independen?

Independensi The Fed berakar pada Perjanjian Departemen Keuangan-The Fed tahun 1951, yang memisahkan kebijakan moneter, pengelolaan pasokan uang, dari kebijakan fiskal, keputusan pemerintah tentang perpajakan dan pengeluaran. Hal ini mengakhiri periode di mana bank sentral ditekan oleh Departemen Keuangan AS untuk menjaga suku bunga tetap rendah secara artifisial.

The Fed menetapkan suku bunga tanpa perlu persetujuan dari presiden atau Kongres. Meski bertanggung jawab pada pembuat undang-undang dan kepemimpinannya ditunjuk presiden dan disetujui Senat, masa jabatan yang panjang dan bertahap dari Dewan Gubernur dan Gubernur membantu melindungi The Fed dari tekanan politik jangka pendek.

Selain itu, The Fed mendanai operasionalnya sendiri—terutama melalui bunga yang diperoleh dari surat utang pemerintah—sehingga tidak bergantung pada alokasi anggaran Kongres, yang semakin memperkuat independensinya.

Meski para presiden selama bertahun-tahun secara pribadi mengutarakan ketidakpuasan kepada pimpinan The Fed atas tingkat suku bunga, mereka umumnya tidak mengkritik bank sentral secara terbuka. Dalam beberapa dekade sejak The Fed memperoleh independensi, bank sentral lain di seluruh dunia juga memperoleh otonomi serupa dalam menetapkan suku bunga tanpa campur tangan politik.

Mengapa bank sentral harus independen?

Argumen paling umum atas independensinya bahwa hal itu memungkinkan para ahli kebijakan moneter membuat keputusan yang memprioritaskan stabilitas ekonomi jangka panjang daripada keuntungan politik jangka pendek.

Independensi melindungi proses penetapan suku bunga dari siklus Pemilu, mengurangi risiko bahwa bank sentral mengejar langkah-langkah kebijakan yang melayani kepentingan politik daripada kebutuhan ekonomi jangka panjang. 

Apa bukti independensi bank sentral membuahkan hasil ekonomi yang baik?

Sejak krisis inflasi tahun 1970-an dan 1980-an, puluhan pemerintah memberikan otonomi kepada bank sentral mereka dalam menetapkan kebijakan moneter. Pendukung mengutip sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa praktik ini membuahkan hasil ekonomi yang lebih baik.

Misalnya, studi Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap puluhan bank sentral antara 2007 dan 2021 menemukan bahwa bank sentral dengan independensi yang kuat lebih berhasil dalam mengendalikan ekspektasi inflasi.

Analisis IMF terhadap 17 bank sentral Amerika Latin selama 100 tahun terakhir menemukan bahwa otonomi yang lebih besar menghasilkan pengendalian inflasi yang jauh lebih baik. Studi lain juga menunjukkan hasil serupa. 

Apa argumen yang menentang independensi bank sentral?

Setelah krisis keuangan 2008, kritikus menuduh bank sentral gagal memprediksi runtuhnya gelembung properti. Krisis tersebut memaksa bank sentral campur tangan secara besar-besaran di pasar keuangan melalui kebijakan yang dikenal sebagai quantitative easing (pelonggaran kuantitatif), yang kemudian disalahkan karena memperburuk ketidaksetaraan dengan menguntungkan mereka yang sudah memiliki aset.

Bank sentral kembali menjadi sasaran kritik setelah krisis inflasi yang dipicu pandemi Covid-19 memaksa mereka menaikkan suku bunga pada 2022. Kritikus menuduh mereka gagal mendeteksi awal kenaikan inflasi dan kemudian terlalu lambat merespons saat biaya hidup melonjak. Belakangan ini, seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi, bank sentral menghadapi tekanan politik untuk menurunkan suku bunga.

Akibatnya, penilaian terhadap keputusan pejabat, pertanggungjawaban mereka terhadap cabang eksekutif dan legislatif pemerintah, serta transparansi proses pengambilan keputusan mereka kembali menjadi sorotan.

(bbn)

No more pages