Logo Bloomberg Technoz

Harga emas meroket 67% tahun lalu, kenaikan tahunan tertinggi sejak 1979. Memasuki 2026, sepertinya tren bullish harga emas masih terjaga.

“Sepanjang 2025,variabel eksplisit dalam model kami menjelaskan sekitar 60% dari imbal hasil tahunan (FY return) dipicu oleh risiko geopolitik dan aktivitas di pasar opsi, khususnya pada periode Agustus hingga Oktober. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) juga berperan penting, Penurunan imbal hasil (yield) obligasi memberikan dorongan yang sedikit lebih kecil, tetapi tetap signifikan,” ungkap riset World Gold Council (WGC).

Untuk bulan ini, WGC menilai ada beberapa peristiwa yang bisa mempengaruhi laju harga emas. Pertama adalah pembaruan (rebalancing) indeks harga komoditas. Mulai pekan lalu, rebalancing atas Bloomberg Commodity Index  (BCOM) dimulai.

Kedua adalah putusan Mahkamah Agung AS terhadap kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Ketiga adalah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS.

“Kami memandang hasil dari peristiwa-peristiwa tersebut sebagian besar akan berdampak positif bagi emas. Penangkapan Maduro oleh AS dan ketegangan yang terus berlanjut di Venezuela mengingatkan kita bahwa gejolak geopolitik cenderung mereda dengan cukup cepat. Namun, frekuensi peristiwa semacam itu serta efek kumulatifnya selama setahun terakhir kemungkinan telah meningkatkan kecemasan pasar dan premi risiko. Dalam skenario seperti ini, emas tampaknya menjadi pihak yang paling diuntungkan,” jelas riset WGC.

(aji)

No more pages