Meski demikian, ia menekankan potensi risiko dalam jangka menengah hingga panjang tetap perlu diwaspadai secara serius. Mahendra mengingatkan, eskalasi konflik telah meningkatkan ketidakpastian global, yang bisa berdampak pada berbagai aspek risiko di sektor jasa keuangan, termasuk risiko pasar, risiko likuiditas, dan risiko kredit pembiayaan.
"Nah maka sekalipun demikian kita tentu juga harus mencermati perkembangan dan risikonya kepada perekonomian dan sektor jasa keuangan dalam jangka menengah panjangnya. Karena hal tadi jelas telah menyebabkan sekali lagi eskalasi terhadap tensi geopolitik," jelasnya.
Bahkan Mahendra juga menuturkan sebelum terjadi penyerangan dari AS kepada Venezuela risiko geopolitik sudah menyebabkan ketidakpastian yang tinggi pada proses pertumbuhan ekonomi, stabilitas perekonomian, dan keuangan global.
Sehingga, kondisi ini menambah kompleksitas dalam mengelola risiko sistem keuangan secara global.
"Jadi singkatnya dalam jangka pendek belum terlihat dan terasa secara langsung. Dalam jangka menengah panjang harus kita waspadai terus," jelasnya.
Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai eskalasi konflik antara AS dan Venezuela tak serta-merta turut berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, baik dari sisi inflasi, subsidi energi, pasar keuangan, maupun nilai tukar rupiah.
Menurut dia, faktor jarak geografis, keterbatasan peran Venezuela di pasar minyak global, serta kondisi suplai energi dunia membuat dampaknya ke Indonesia relatif cukup terbatas.
“Venezuela kan sudah lama tidak terlalu aktif di pasar minyak dunia juga, kapasitas produksinya terbatas,” ujar Purbaya kepada wartawan di kawasan Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/1/2025).
Ia menambahkan, kekhawatiran pasar terhadap penurunan suplai minyak hanya bersifat jangka pendek. Pasalnya, AS sendiri juga telah membuka kembali izin pengeboran minyak, termasuk di Alaska, yang dinilai mampu menjaga pasokan global.
"Kalau di short run mungkin orang pikir suplainya turun. Tapi Amerika sudah izinkan drilling di Alaska, jadi enggak terlalu ngaruh ke suplai,” kata dia.
Hal itu, kata dia, juga yang akan membuat dampak lanjutan konflik kedua negara terhadap ekonomi Indonesia menjadi sangat terbatas, mengingat posisi Indonesia yang relatif jauh dari pusat konflik dan bagian dari rantai pasok langsung kawasan itu.
Sementara, dari sisi nilai tukar, Purbaya melihat peluang dampak cenderung positif bagi rupiah, mengingat posisi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih.
"[Rupiah] harusnya positif. Karena kalau harga minyak turun, kita kan sekarang net importir, jadi nilai impor juga turun,” ujarnya. "[Tapi] kita mesti selalu menjaga kekuatan kita."
(lav)


























