Logo Bloomberg Technoz

Begitu juga sebaliknya, Bahlil mengatakan ketika pemerintah berencana mengevaluasi dan memangkas produksi bijih nikel, harga komoditas tersebut langsung merangkak naik.

Kenapa? Supaya pengusahanya juga untung, negara juga untung. Masyarakat juga untung gitu loh. Itu maksudnya. Jadi kita mau dorong itu adalah pengusahanya untung, negara untung, rakyat untung,” ucap Bahlil.

Pergerakan harga nikel awal Januari 2026./dok. Bloomberg

Harga nikel makin turun dari level tertinggi 19 bulan setelah Indonesia tidak memberikan perincian tentang pengurangan produksi yang sebelumnya memicu kenaikan tajam.

Kontrak berjangka tiga bulan turun hingga 4,4% di London Metal Exchange (LME). Harga turun 3,4% pada Rabu, setelah melonjak ke US$18.800/ton, level intraday tertinggi sejak Juni 2024, karena investor bertaruh pada risiko terhadap produksi di pemasok utama Indonesia.

Nikel diperdagangkan 4,14% lebih rendah pada US$17.155 per ton di LME pada Jumat pukul 9:30 WIB.

Sekadar catatan, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mengestimasikan produksi logam nikel kelas 1 dan kelas 2 sepanjang 2025 mencapai 2,46—2,5 juta ton, meningkat dari realisasi produksi 2024 sebanyak 2,2 juta ton

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menjelaskan Indonesia membutuhkan kurang lebih sebanyak 300 juta ton bijih atau ore nikel untuk menghasilkan produksi logam sebanyak 2,46 juta ton tersebut.

Dia menambahkan kapasitas terpasang fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel di Indonesia tercatat sebesar 2,8 juta ton nikel yang terdiri atas 2,3 juta ton smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) dan 500.000 ton smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL).

“⁠Dengan tingkat utilisasi dan faktor-faktor operasi lainnya, hingga akhir 2025 diperkirakan produksi nikel Indonesia berada sekitar 2,5 juta ton nikel kelas 1 dan 2,” kata Arif ketika dihubungi, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Arif mengungkapkan realisasi produksi bijih nikel Indonesia pada 2025 diperkirakan hanya mencapai 82%—85% dari total produksi yang disetujui dalam RKAB 2025 sekitar 300 juta ton.

Dengan begitu, pada tahun lalu Indonesia diprediksi harus mengimpor 15 juta ton bijih nikel dari Filipina ke wilayah Halmahera, Maluku Utara untuk menambal kekurangan pasokan bijih tersebut.

Arif mengatakan produksi logam nikel pada 2026 berpotensi naik lagi menjadi 2,7 juta ton, seiring dengan penambahan kapasitas terpasang smelter.

Dari besaran itu, Indonesia membutuhkan tambahan bijih nikel sekitar 40—50 juta ton atau sekitar 340—350 juta ton.

(azr/wdh)

No more pages