Konsumsi batu bara dunia diperkirakan turun pada 2025 dan berlanjut ke 2026. Pemanfaatan energi baru-terbarukan yang makin masif, terutama di China, akan menggeser peran batu bara sebagai sumber energi primer.
“Konsumsi batu bara diperkirakan turun sedikit pada 2025, dan kembali melemah pada 2026 seiring transisi ke energi terbarukan maupun gas alam. Permintaan di China akan terus menurun, sedangkan di India terjadi perlambatan. Jika proyeksi ini terwujud, maka konsumsi batu bara dunia sudah memuncak pada 2024,” sebut kajian Bank Dunia.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana perkiraan harga batu bara untuk hari ini, Kamis (8/1/2026)? Apakah bakal turun lagi atau bisa bangkit berdiri?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), batu bara masih tersangkut di zona bearish. Tercermin dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 44. RSI di bawah 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Adapun indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 50. Berada di area netral.
Untuk perdagangan hari ini, harga batu bara berpotensi naik. Apalagi harga sudah menyentuh pivot point US$ 106/ton.
Dari situ, harga batu bara berpotensi menguji resisten US$ 108/ton. Jika tertembus, maka resisten selanjutnya ada di US$ 109/ton.
Namun jika harga batu bara malah turun, maka ada risiko mengetes support US$ 105/ton. Penembusan di titik ini bisa memangkas harga ke arah US$ 104-102/ton.
(aji)





























