Waspada Aksi Ambil Untung IHSG Imbas Tekanan Rupiah & Geopolitik
Recha Tiara Dermawan
08 January 2026 08:00

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menghadapi potensi aksi ambil untung dalam jangka pendek, seiring dengan tekanan nilai tukar rupiah dan meningkatnya risiko geopolitik global. Hal tersebut disampaikan dalam riset terbaru Phintraco Sekuritas.
Pada perdagangan Rabu (7/1), IHSG ditutup menguat 0,13% ke level 8.944,81, setelah sempat mencatatkan rekor tertinggi intraday baru di 8.970. Secara sektoral, saham-saham di sektor industri mencatatkan penguatan terbesar, sementara sektor transportasi menjadi yang mengalami koreksi paling dalam.
Phintraco Sekuritas mencatat, pergerakan pasar saham domestik berlangsung di tengah tekanan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan yang sama, rupiah terdepresiasi ke level Rp16.780 per dolar AS di pasar spot, seiring pelemahan mayoritas mata uang Asia.
“Dari sisi global, ketidakpastian kembali meningkat setelah munculnya ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengakuisisi Greenland. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan volatilitas di pasar keuangan global,” ujar tim riset Phintraco dalam keterangannya, dikutip Kamis (8/1/2026).
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai histogram MACD masih berada di zona positif dan terus menguat. Namun, momentum beli mulai menunjukkan pelemahan, tercermin dari indikator Stochastic RSI yang telah berada di area jenuh beli (overbought). Dengan kondisi tersebut, potensi aksi profit taking dinilai perlu diwaspadai, terutama apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat.





























