Listrik Desa
Lebih lanjut, Prasetyo menyebut Bahlil melaporkan ihwal percepatan pengaliran listrik ke desa-desa yang belum tersentuh setrum PT PLN (Persero).
Dia menyebut dari 5.700 desa yang belum teraliri listrik pada 2025, sebanyak 1.400 di antaranya saat ini sudah teraliri listrik.
“Untuk itu, Bapak Presiden sebagaimana tadi juga sudah kami sampaikan, beliau meminta percepatan supaya 5.700 desa di 2025 ini dapat semua sudah teraliri listrik,” tegas Prasetyo.
Di sisi lain, Prasetyo menyatakan pemerintah bakal memulai pembangunan atau groundbreaking enam proyek hilirisasi prioritas bulan ini.
Enam proyek itu menjadi bagian dari 18 program hilirisasi yang diajukan Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional. Rencanannya proyek ini bakal dikerjakan oleh BPI Danantara.
Prasetyo mengatakan groundbreaking proyek hilirisasi lainnya bakal berlanjut sampai Maret 2026. Dia juga menegaskan, 18 proyek hilirisasi yang diajukan Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional telah disepakati.
“Ada enam groundbreaking dari program hilirisasi yang kemudian nanti dilanjutkan pada Februari dan Maret untuk menyelesaikan kurang lebih 18 program yang sudah kita sepakati,” ungkap Prasetyo.
Prasetyo menuturkan sejumlah proyek hilirisasi yang tengah didorong pemerintah di antaranya gasifikasi batu bara menjadi DME.
Selain itu, dia mengatakan, pemerintah juga menaruh perhatian pada program pembangkit sampah atau waste to energy (WtE).
Selain itu, dia menambahkan, program hilirisasi tersebut juga menyasar pada komoditas pertanian dan perkebunan seperti kopi, cokelat dan pala.
Sekadar informasi, Wamen ESDM Yuliot Tanjung juga sudah memastikan produksi siap jual minyak sepanjang 2025 bakal mencapai target 605.000 bph.
“Jadi kan data akhir itu lagi dikonsolidasikan oleh SKK Migas. Insyallah capaian 605 [bph] itu tercapai tahun ini [2025],” kata Yuliot ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (2/1/2026).
Dia menjelaskan seluruh perusahaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) tengah menyesuaikan tingkat produksi masing-masing berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP).
Di sisi lain, Yuliot juga mengakui baru-baru ini terjadi kebocoran pipa di ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) sehingga lifting minyak sempat turun di level 604.000 bph.
Akan tetapi, peristiwa tersebut dapat segera ditangani sehingga produksi minyak kembali normal.
“Kemarin itu kan juga ada kendala, ada kebocoran di ExxonMobil di Cepu, tetapi dua hari itu sudah bisa diperbaiki. Jadi ini kembali ke produksi normal kembali,” jelas dia.
-- Dengan asistensi Dovana Hasiana
(azr/wdh)





























