“Kita memasuki era di mana sebuah katalog musik dapat dijelajahi layaknya sebuah semesta cerdas — bersifat percakapan, kontekstual, dan benar-benar interaktif,” kata Richard Kerris, general manager media dan hiburan di Nvidia.
Universal yang berbasis di Belanda dan Nvidia dari California juga akan membentuk sebuah inkubator tempat para artis dapat ikut merancang dan menguji alat-alat baru berbasis AI, yang menurut pernyataan tersebut akan menjadi “penangkal langsung terhadap keluaran ‘AI slop’ yang generik.”
Industri musik berlomba-lomba memanfaatkan perkembangan terbaru AI sekaligus melindungi katalog bernilai tinggi mereka, dengan secara bertahap bergeser dari pendekatan yang bersifat konfrontatif menuju sikap yang lebih kooperatif.
Tiga label rekaman terbesar — Universal, Sony Music Entertainment, dan Warner Music Group Corp. — menggugat startup musik AI Suno Inc. dan Udio pada 2024 atas dugaan pelanggaran hak cipta. Namun tahun lalu, Universal dan Warner mencapai kesepakatan dengan Udio serta menandatangani kerja sama untuk kolaborasi dalam penciptaan musik baru dan platform streaming. Warner juga menyelesaikan gugatannya terhadap Suno dan menyepakati kemitraan untuk menciptakan musik baru.
Ketiga label tersebut juga sepakat tahun lalu untuk melisensikan karya mereka kepada sebuah startup musik bernama Klay, lapor Bloomberg, yang tengah membangun layanan streaming yang memungkinkan pengguna mengaransemen ulang lagu menggunakan alat-alat AI.
(bbn)































