Logo Bloomberg Technoz

Singkatnya, Krivkovich menyebut sebagian besar kemampuan manusia tetap ada di era AI, dan yang berubah adalah di mana kemampuan tersebut digunakan serta bagaimana orang menggabungkannya dengan beragam tool cerdas.

Sejalan dengan AI menyerap lebih banyak tugas seperti menyaring informasi, mengatur data, dan menyusun konten dasar, para pekerja harus lebih mengandalkan kemampuan yang belum ditawarkan oleh mesin: penilaian, membangun hubungan, berpikir kritis, dan empati.

Ilustrasi Studi potensi AI dalam menggantikan peran pekerjaan manusia (Diolah)

“Perangkat AI tidak menghilangkan kebutuhan akan keterampilan manusia, tetapi mengubah apa yang perlu dikuasai oleh manusia,” ujar Krivkovich.

Dia menilai pergeseran dalam pekerjaan ini membawa janji ekonomi yang amat besar. Menurut perkiraan mereka, agen AI (agentic AI) dan robot dapat menghasilkan nilai tahunan hampir US$3 triliun (setara Rp50.276 triliun dengan asumsi kurs Rp16.758/US$) bagi perekonomian AS pada 2030 mendatang. Namun, mewujudkan potensi ini membutuhkan pilihan kepemimpinan yang berani.

Perusahaan Perlu Desain Ulang Alur Kerja Manusia Seputar AI

Sementara itu, Krivkovich memandang adopsi AI masih dalam tahap awal. Banyak bisnis memulai dengan hanya menambahkan alat-alat baru ke alur kerja yang dibangun untuk era yang lebih lama. 

“Tidak mengherankan jika kurang dari 40% melaporkan peningkatan keuntungan yang terukur. Teknologi saja tidak akan menghasilkan produktivitas; cara kita bekerja dengan teknologi harus berubah. Itu berarti mendesain ulang proses di sekitar AI, sehingga manusia, agen AI, dan robot beroperasi bersama sebagai sistem terintegrasi, bukan sebagai bagian-bagian yang terpisah,” ujar Krivkovich.

Menurut dia, perusahaan perlu melakukan sejumlah upaya. Pertama, mengidentifikasi alur kerja di mana sebagian besar peran saat ini bisa ditata ulang dan didefinisikan bagaimana manusia bakal berkontribusi di dalam proses yang dirancang ulang tersebut.

Artificial intelligence generatif mengubah dunia pekerjaan. (dok Bloomberg)

“Agen AI dapat mengambil alih banyak tugas digital, informasi, dan komunikasi rutin, dan robot dapat melakukan banyak tugas fisik. Tetapi manusia tetap penting untuk hal-hal yang masih sulit dilakukan oleh mesin: penilaian yang bernuansa, kreativitas, kesadaran situasional, dan keterampilan sosial-emosional,” tegas Krivkovich.

Kedua, lanjut dia, menentukan keterampilan yang dibutuhkan pekerja dan khususnya manajer untuk berkolaborasi secara efektif dengan AI. Hal ini termasuk kemampuan teknis serta kemampuan khusus untuk interaksi manusia dan AI: merumuskan masalah, mengawasi keluaran AI, menafsirkan hasil, mengelola pengecualian, dan mengetahui kapan harus meningkatkan keputusan.

“Keberhasilan harus diukur dari seberapa baik manusia dan AI menciptakan nilai bersama, bukan dari banyaknya alat yang digunakan,” kata Krivkovich.

Ketiga, lebih lanjut, membangun rencana pemetaan keterampilan dan peningkatan keterampilan yang membantu pekerja beralih ke peran masa depan. Artinya, memperkuat kemampuan manusia yang terpenting, menciptakan jalur ke peran yang berdekatan, dan berinvestasi dalam pelatihan yang membantu orang menerapkan kekuatan mereka dalam konteks baru. 

“Memperbarui spesifikasi pekerjaan saja tidak cukup; pekerja membutuhkan bimbingan dan dukungan untuk membangun kemampuan yang akan membawa mereka maju,” ujar Krivkovich.

Kemudian dia mengatakan perangkat AI kemungkinan menggantikan sebagian pekerjaan manusia, tetapi yang lebih mendasar, perangkat AI mengubah keahlian yang dibutuhkan manusia. Permintaan akan pekerja yang mahir memakai perangkat AI naik pesat. 

Krivkovich menyebut lowongan pekerjaan yang memerlukan kemampuan AI sudah meningkat hampir 7 kali lipat hanya dalam 2 tahun, lebih cepat daripada keterampilan lainnya. Hal ini mengindikasikan perubahan yang jauh lebih besar di masa mendatang.

Menurut Krivkovich, tak diragukan lagi bahwa beberapa pekerjaan akan menyusut di era AI. Pekerjaan lain bakal berkembang atau berubah, dan pekerjaan baru akan muncul. 

Krivkovich menilai transisi ini bakal menjadi tantangan bagi pekerja dan bisnis. Tetapi organisasi yang membantu orang membangun keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja dengan AI akan memperoleh nilai yang jauh lebih besar daripada organisasi yang hanya menerapkan alat baru.

“AI akan mengubah berbagai tugas. Namun, pekerjaan manusia akan tetap ada. Perusahaan yang berhasil akan berinvestasi pada karyawan mereka sebagai aset inti, bukan hanya pada teknologi,” pungkas Krivkovich.

(far/wep)

No more pages