Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini akan dapat menyentuh 6%.
Namun, Purbaya juga menjelaskan sejumlah hal yang akan membantu memacu target tersebut, yang juga akan menjadi fokus pemerintah ke depan. Pertama, adalah memacu belanja pemerintah.
Kedua, pemerintah juga akan memperkuat koordinasi dengan BI selaku otoritas moneter guna mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Terakhir, adalah usaha meminimalisir hambatan bisnis lewat satgas debottlenecking.
"Tahun 2026 harusnya pertumbuhan 6%, seperti yang saya bilang sebelum-sebelumnya tidak terlalu sulit untuk dicapai," katanya kepada wartawan, belum lama ini.
Asian Development Bank (ADB)
Berdasarkan laporan Asian Development Outlook (ADO) September 2025, ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini sebesar 5%.
Proyeksi tersebut terbilang lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya atau Juli 2025 lalu yang masih sebesar 5,1%. Bukan tanpa sebab, pemangkasan itu tak lain disebabkan oleh timbulnya lingkungan perdagangan global baru akibat pengenaan tarif dan perubahan kesepakatan dagang.
"Tarif Amerika Serikat berada pada tingkat yang tinggi secara historis dan ketidakpastian perdagangan global masih sangat tinggi,” ujar Kepala Ekonom ADB Albert Park lewat keterangan resminya, Selasa (30/9/2025) lalu.
Citibank
Sementara itu, Citibank Indonesia memproyeksikan ekonomi Indonesia 2026 akan berada di angka 5,3%, yang akan ditopang oleh sejumlah indikator seperti penurunan suku bunga.
Selain itu, mereka juga menilai telah ada tanda-tanda mulai efektifnya berbagai kebijakan moneter dan fiskal yang dilakukan pemerintah pada kuartal akhir 2025 lalu.
"Di tahun 2026 kami melihat pertumbuhan ekonomi akan rebound dari kemungkinan menuju sekitar 5,3% di tahun 2026," ujar Kepala Ekonom Citibank Indonesia, Helmi Arman.
Helmi mengatakan, ini juga terjadi lantaran penurunan suku bunga acuan BI dan ekspansi likuiditas perpindahan dana pemerintah dari rekening BI ke sektor perbankan memberikan ruang baru bagi perbaikan penyaluran kredit.
Permata Bank
Permata Bank memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh di kisaran 5,1%-5,2% pada 2026. Proyeksi tersebut meningkat dari estimasi pertumbuhan 2025 yang berada di level 5%–5,1%.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan prospek tersebut ditopang oleh kombinasi kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan serta bauran kebijakan Bank Indonesia (BI) yang dinilai tetap akomodatif.
"Pertumbuhan ekonomi domestik kami perkirakan akan terus membaik," kata Josua dalam agenda PIER Economic Outlook di Jakarta, Kamis (4/12/2025) lalu.
Josua meyakini sinergi kebijakan pemerintah dan otoritas moneter dinilai tetap menjadi kunci agar pertumbuhan yang pro-growth dapat berjalan seiring dengan stabilitas ekonomi.
Dari sisi eksternal, Permata Bank melihat perbaikan akan berlanjut meski neraca transaksi berjalan masih menunjukkan kecenderungan defisit. Surplus perdagangan diperkirakan tetap kuat, sementara arus masuk modal, baik portofolio maupun foreign direct investment (FDI) dinilai akan meningkat.
Bank Indonesia
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 mencapai 5,33%, sedikit di bawah asumsi makro yang digunakan pemerintah dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.
Meski di bawah asumsi pemerintah, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut target pertumbuhan 5,4% tetap dapat tercapai apabila stimulus fiskal APBN 2026 terealisasi lebih cepat.
"Pertumbuhan ekonomi 2026 sesuai perkiraan-perkiraan kami adalah 5,33%. Ini kami sudah mempertimbangkan penurunan ekonomi global, termasuk mitra kerja utama," kata Perry dalam Rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Konsensus Bloomberg
Di sisi lain, berdasarkan konsensus yang dihimpun Bloomberg dari sebanyak 20 ekonom menunjukkan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2026 diperkirakan sekitar 5% secara tahunan, serupa dengan proyeksi untuk tahun 2025 dan 2027.
Menurut Ahmad Mobeen, ekonom senior S&P Global Market Intelligence stabilitas ini ditopang dua pilar kebijakan. Pertama, stimulus fiskal pemerintah untuk menghidupkan konsumsi rumah tangga.
Kedua, kebijakan makroprudensial Bank Indonesia (BI) yang cenderung akomodatif, seiring adanya pergeseran kebijakan moneter yang mendukung pertumbuhan.
Para ekonom juga memproyeksikan kebijakan moneter akan tetap longgar dengan adanya penurunan suku bunga acuan BI ke 4,5% pada akhir kuartal I-2026, dari posisi akhir tahun ini 4,75%. BI juga diprediksi akan kembali menurunkan suku bunga ini pada akhir kuartal II-2026 menjadi 4,25%.
(lav)





























