Senada dengan itu, pemimpin Kuba Miguel Diaz-Canel "mendesak" komunitas internasional untuk segera merespons "serangan kriminal" tersebut.
China juga “dengan keras mengecam penggunaan kekuatan militer AS secara terang-terangan terhadap negara berdaulat dan tindakan terhadap presidennya," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan.
Amerika Serikat menangkap Nicolas Maduro dan menerbangkannya keluar dari Venezuela setelah serangkaian serangan udara. Ledakan pertama di ibu kota terdengar sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat, dan pesawat tempur terlihat serta terdengar melintas di udara selama berjam-jam, menurut keterangan warga. Sejumlah ledakan terpusat di sekitar pangkalan militer Fuerte Tiuna di Caracas.
Presiden Donald Trump dijadwalkan menggelar konferensi pers pada pukul 11.00 waktu setempat di Mar-a-Lago, kediamannya di Palm Beach, Florida.
Perubahan pemerintahan di Venezuela diperkirakan akan berdampak signifikan bagi kawasan. Negara-negara di selatan Venezuela selama ini mengalami lonjakan arus migran yang melarikan diri dari rezim Maduro, mendorong para pemimpin Amerika Selatan mencari cara mengelola arus lintas batas.
Presiden Argentina Javier Milei, Rodrigo Paz dari Bolivia, presiden terpilih Chile Jose Antonio Kast, serta Jose Jeri dari Peru, sebelumnya menyuarakan penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai kekuasaan Maduro yang tidak sah, sekaligus menyampaikan keprihatinan atas migrasi ilegal.
Komunitas Karibia yang beranggotakan 15 negara, CARICOM, menyatakan telah menggelar pertemuan darurat pada Sabtu untuk membahas serangan tersebut dan menilai “dampak yang mungkin timbul bagi negara-negara tetangga.” Negara-negara anggota CARICOM memperingatkan bahwa instabilitas di Venezuela berpotensi memicu gelombang migrasi yang dapat membebani negara-negara kepulauan kecil di kawasan. Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sanchez menyatakan melalui X bahwa negaranya telah mengaktifkan pusat komando terpadu dan rencana pengamanan perbatasan di Cucuta untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada para migran.
Namun, sejumlah pemimpin kawasan justru menyambut intervensi tersebut. Milei merayakan penangkapan Maduro dengan mengunggah slogan khasnya, “Hidup Kebebasan, Sialan!” sebagai tanggapan atas laporan penahanan pemimpin Venezuela itu di X. Presiden Ekuador Daniel Noboa menyatakan melalui media sosial bahwa struktur “narco-kriminal Chavista” akan runtuh di seluruh benua dan menyatakan dukungan kepada tokoh oposisi Venezuela, Edmundo Gonzalez dan Maria Corina Machado.
Milei, Noboa, dan sejumlah pemimpin sayap kanan lainnya di kawasan sejak lama menilai kebangkitan Maduro ke tampuk kekuasaan tidak berlangsung secara demokratis.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan blok tersebut memantau ketat perkembangan di Venezuela, sebagaimana disampaikan melalui X. Ia kembali menegaskan bahwa Maduro “tidak memiliki legitimasi,” seraya menekankan dukungan Uni Eropa terhadap “transisi yang damai.” Di hari yang sama, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyerukan de-eskalasi.
Di Amerika Serikat sendiri, sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat turut mengkritik operasi militer tersebut, bahkan sebelum penangkapan Maduro diumumkan.
“Perang ini ilegal. Sangat memalukan bahwa kita berubah dari polisi dunia menjadi perundung dunia hanya dalam waktu kurang dari satu tahun,” kata Senator Ruben Gallego dari Arizona. “Tidak ada alasan bagi kami untuk berperang dengan Venezuela.”
(bbn)































