Meski suku bunga telah dipangkas dalam beberapa waktu terakhir, Paulson memperkirakan kebijakan moneter saat ini masih bersifat “sedikit ketat”, sehingga membantu menjaga tekanan penurunan inflasi.
“Kombinasi dari kebijakan moneter yang ketat di masa lalu dan saat ini akan membantu mendorong inflasi turun sepenuhnya menuju” target 2% yang ditetapkan The Fed, ujarnya.
Paulson mengakui dampak tarif terhadap harga barang kemungkinan akan membuat inflasi tetap relatif tinggi pada paruh pertama 2026. Namun, ia memperkirakan inflasi barang akan kembali melandai ke level yang sejalan dengan target 2% pada paruh kedua tahun tersebut.
Para pejabat The Fed hingga kini masih berbeda pandangan mengenai seberapa jauh suku bunga perlu diturunkan tahun ini, setelah sebelumnya memangkas total 0,75 poin persentase dalam tiga pertemuan terakhir. Semakin banyak di antara mereka yang cenderung memilih menahan suku bunga setidaknya hingga tersedia lebih banyak data terkait inflasi dan ketenagakerjaan.
Dalam proyeksi untuk 2026, proyeksi median para pembuat kebijakan menunjukkan pemangkasan sebesar seperempat poin persentase. Sementara itu, para investor memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan.
Prospek yang Menantang
Para pembuat kebijakan tengah menghadapi prospek ekonomi yang menantang. Tingkat pengangguran naik ke level tertinggi dalam empat tahun, yakni 4,6% pada November, sementara inflasi inti menunjukkan perbaikan. Data pertumbuhan juga tercatat lebih kuat dari perkiraan, dengan ekonomi AS tumbuh pada kuartal ketiga dengan laju tahunan 4,3%.
Namun, penutupan sementara pemerintah federal baru-baru ini, serta dampaknya terhadap pengumpulan data, “mempersulit interpretasi” kondisi perekonomian, kata Paulson. Prospeknya—yang menurutnya belum memasukkan sinyal dari data pengangguran terbaru—adalah “optimisme yang berhati-hati terhadap inflasi serta kebutuhan akan kejelasan lebih besar mengenai faktor yang mendorong pertumbuhan naik sementara lapangan kerja melemah.”
Paulson kembali menegaskan pandangannya sebelumnya bahwa kecerdasan buatan (AI) berpotensi mendorong lonjakan produktivitas yang signifikan. Dalam skenario tersebut, The Fed tidak perlu khawatir bahwa pertumbuhan yang lebih tinggi akan memicu inflasi. Namun, ia menambahkan, para pejabat tidak akan mengetahui secara langsung apakah pertumbuhan yang lebih tinggi benar-benar didorong oleh peningkatan produktivitas.
Pada Sabtu, Paulson juga mempresentasikan sebuah esai yang ia tulis bersama penulis lain, yang menekankan pentingnya kredibilitas bank sentral dalam meredam lonjakan inflasi. “Tampaknya pengalaman inflasi selama lima tahun terakhir tidak meninggalkan dampak jangka panjang terhadap ekspektasi inflasi jangka panjang,” tulis esai tersebut.
(bbn)






























