Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, tekanan fiskal juga masih jadi perhatian sebagian besar pelaku pasar. Hingga akhir November 2025, defisit APBN mencapai 2,35% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp560,3 triliun. Pelebaran defisit ini jadi sinyal penting bagi pelaku pasar karena dapat berimplikasi langsung pada kebutuhan pembiayaan 2026. 

Lemahnya posisi fiskal ini bersumber dari perlambatan penerimaan negara. Realisasi penerimaan negara sampai November 2025 tercatat Rp2.351 triliun atau 82,1% dari target APBN, lebih rendah dari realisasi periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp2.492,2 triliun.

Sebaliknya, belanja negara justru meningkat, dengan realisasi mencapai Rp2.911,8 triliun atau 82,5% dari target Rp3.527,5 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi November tahun 2024 sebesar Rp2.894,5 triliun. 

Lemahnya penerimaan dan tingginya kebutuhan belanja yang cenderung ekspansif memperkuat persepsi adanya peningkatan tekanan dalam pembiayaan APBN 2026, baik lewat penerbitan surat utang maupun optimalisasi sumber pembiayaan lain. 

Bagi pelaku pasar valuta asing, artinya permintaan valas akan berpotensi naik. Dari kacamata kebijakan moneter, ruang untuk menjaga stabilitas nilai tukar dapat semakin menyempit. Bank Indonesia (BI), diperkirakan akan tetap defensif, dengan melakukan intervensi terukur di pasar valas tanpa mengorbankan stabilitas jangka menengah. Apalagi, saat ini cadangan devisa masih cenderung aman di posisi 6,2 bulan pembiayaan impor. 

(riset/aji)

No more pages