Dalam pertemuan investor pada awal Desember lalu, CEO BYD, Wang Chuanfu menginformasikan bahwa keunggulan teknologi yang dipertahankan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir telah berkurang dan memengaruhi penjualan domestik.
Menurut laporan media China, Wang mengisyaratkan adanya terobosan teknologi baru yang akan datang. Tim insinyur perusahaan sejumlah 120.000 orang memberinya keyakinan tentang kemampuan perusahaan untuk meraih kembali keunggulannya.
Satu titik terang bagi BYD adalah penjualan luar negeri yang melonjak. Pengiriman di luar China mencapai 1,05 juta unit pada tahun 2025.
Perusahaan menetapkan target untuk memperluas penjualan di luar negeri menjadi antara 1,5 juta hingga 1,6 juta unit pada 2026, menurut laporan Citigroup Inc pada November, mengutip pertemuan dengan manajemen BYD.
Tekanan semakin meningkat pada BYD setelah perusahaan mencatatkan penurunan laba kuartalan berturut-turut dan menjadi sorotan dalam upaya China untuk mengendalikan diskon agresif. Peningkatan pengawasan ini mungkin akan mempercepat konsolidasi dan mengguncang hierarki sektor ini.
Sejauh ini, pengamat pasar percaya bahwa BYD dapat menghadapi tantangan tersebut lebih baik daripada pesaingnya.
Menurut perkiraan analis yang dihimpun Bloomberg, total penjualan perusahaan diperkirakan tumbuh mencapai 5,3 juta unit tahun depan. Analis Deutsche Bank memperkirakan peluncuran produk baru dan pengenalan platform teknologi akan meningkatkan daya saing perusahaan.
Hal ini akan mempermudah BYD memperluas keunggulannya atas Tesla, yang saat ini juga menghadapi tantangannya sendiri.
Produsen mobil AS tersebut mengalami penurunan penjualan drastis pada awal 2025 karena merombak lini produksi di setiap pabrik perakitannya untuk Model Y yang didesain ulang. Peran Elon Musk yang kontroversial dalam pemerintahan Trump juga membuat sebagian konsumen ragu, serta penghentian subsidi pembelian federal untuk EV di AS diperkirakan akan menekan permintaan ke depan.
(bbn)





























