“Kita sudah melirik, memetakan beberapa potensi-potensi perusahaan yang kita minority di joint venture emas untuk kita naikkan saham kita, sehingga kita bisa menjadi consolidate dari tempat kita,” pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTM Arianto Sabtonugroho mengatakan perseroannya saat ini menjaga produksi emas dari tambang Pongkor sebesar 1 ton setiap tahunya.
“Ini konsisten dengan main plan kami untuk memproduksi sisa cadangan yang tadi tersisa 5 ton,” kata Arianto saat public expose, Kamis (11/9/2025).
Arianto menambahkan realisasi produksi emas dari blok Pongkor telah mencapai 400.000 kilogram sepanjang Januari-Juni 2025. Dia menargetkan produksi bisa dicapai sampai 1 juta ton akhir tahun ini.
Seiring dengan cadangan emas yang tipis dari blok Pongkor, Antam belakangan bergantung pada impor untuk memenuhi permintaan emas di dalam negeri.
Menurut hitung-hitungan Antam, porsi pengadaan emas dari pasar impor mencapai 78% pada paruh pertama 2025, sementara pasokan domestik mengambil porsi 22%.
Situasi itu membuat Antam mesti mempercepat proyek pabrik pencetakan emas di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur.
Rencanannya, pabrik itu bakal menghasilkan 5 juta keping logam mulia batangan dan koin serta emas industri setiap tahunnya.
Adapun, Antam telah menekan perjanjanjian jual beli dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) sekitar 30 ton emas dari fasilitas precious metal refinery (PMR), bagian smelter katoda tembaga PTFI di Gresik, Jawa Timur.
(rtd/naw)




























