Logo Bloomberg Technoz

Menurut dia, banjir tidak terjadi di area pertambangan emas tersebut melainkan terjadi di sungai Garoga yang secara geografis terletak di bawah area pertambangan.

Meskipun begitu, dia mengonfirmasi memang terdapat bukaan lahan di wilayah pertambangan milik entitas PT United Tractor Tbk. (UNTR) tersebut, sebab proses eksploitasi masih berlangsung.

Nah ini fakta yang ketika kita lihat dari atas. Di Martabe itu memang bukaan lahan ketika eksploitasi kan memang masih berlangsung. Tapi banjir yang terjadi itu bukan di sungai ini,” ucap Anggia.

“Di sungai Garoga yang di perbatasan Tapsel dengan Tapteng. Di situlah yang terjadi. Kalau saya lihat dari atas, di sekeliling itu enggak ada terjadi banjir dan lain-lain,” lanjut dia.

Tambang emas dan perak Martabe milik G-Resources Group Ltd. (Dadang Tri/Bloomberg)

Sebelumnya, Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources Katarina Siburian Hardono mengungkapkan perusahaan melakukan penyesuaian operasional tambang emas Martabe usai banjir bandang yang melanda kawasan Sumatra Utara.

Terlebih, alat berat perusahaan sedang dialihkan untuk membantu penanganan pascabanjir.

Dia menjelaskan sekitar 10 unit ekskavator dan backhoe loader dikerahkan untuk membuka kembali akses jalan yang terputus akibat longsor.

“Penyesuaian operasional, sampai kondisi lebih kondusif. Memang saat ini fokusnya sedang ke tanggap darurat,” kata Katarina ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Jumat (5/12/2025).

Akan tetapi, Katarina enggan mengungkapkan dampak penyesuaian operasional kepada produksi bijih emas perusahaan.

Selain itu, helikopter PTAR juga dikerahkan untuk mengantarkan kebutuhan darurat ke lokasi yang terhalang longsor dan banjir.

Dalam keterangan tertulisnya, PTAR mengungkapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat meninjau langsung lokasi terdampak banjir dan longsor di Desa Garoga, Tapanuli Selatan.

Dalam kunjungan itu, Katarina menyatakan perusahaan menegaskan komitmen pada transparansi dan kepatuhan terhadap perizinan serta penerapan prinsip pertambangan yang baik atau good mining practice.

“Kami terbuka dan kooperatif terhadap proses verifikasi serta pengawasan pemerintah. Kami siap menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan dan mendukung penuh setiap langkah pengawasan sesuai ketentuan,” ungkap Katarina, dalam keterangan tertulis yang diterima.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Utara sebelumnya menuding aktivitas tambang emas martabe milik Agincourt memperparah banjir di Sumut lantaran telah mengurangi tutupan hutan dan lahan sekitar 300 hektare (ha).

Selain itu, fasilitas pengolahan limbah tambang atau tailing management facility juga berada dekat sungai Aek Pahu yang mengaliri Desa Sumuran.

Organisasi lingkungan tersebut juga mencatat keluhan warga ihwal kualitas air yang menurun ketika musim hujan, usai beroperasinya Pit Ramba Joring pada 2017.

“Warga menyampaikan bahwa sejak beroperasinya PIT Ramba Joring, air sungai sering kali keruh saat musim hujan,” kata Direktur Eksekutif Walhi Sumut Rianda Purba, dalam keterangan tertulis, yang diterima Selasa (2/12/2025).

Bagaimanapun, manajemen PTAR mengklaim aktivitas tambang emas Martabe tak dapat dikaitkan dengan banjir yang terjadi di Sumatra Utara, sebab perusahaan beroperasi di daerah aliran sungai (DAS) Aek Pahu yang berbeda dengan titik banjir di DAS Garoga.

Dalam keterangan tertulisnya, PTAR menyatakan bencana banjir bandang diakibatkan ketidakmampuan sungai Garoga menampung laju aliran air.

Menurut perusahaan, hal tersebut dipicu penyumbatan material kayu gelondongan di jembatan Garoga I dan Anggoli I.

Efek sumbatan tersebut dinyatakan mencapai titik kritik pada 25 November sekitar pukul 10.00 waktu setempat, menyebabkan perubahan tiba-tiba pada alur sungai sehingga dua anak sungai Gargoa bergabung menjadi aliran baru yang menerjang desa Garoga.

“Temuan kami menunjukkan bahwa mengaitkan langsung operasional Tambang Emas Martabe dengan kejadian banjir bandang di Desa Garoga merupakan kesimpulan yang prematur dan tidak tepat,” kata manajemen PTAR dalam keterangan tertulis, Selasa (2/12/2025).

Manajemen menyatakan bahwa meskipun sungai Aek Pahu dan Garoga bertemu di hilir Desa Garoga, arusnya mengalir hingga pantai barat Sumatra.

Untuk itu, PTAR mengklaim aktivitas perusahaan di DAS Aek Pahu tidak berhubungan langsung dengan bencana di Garoga.

(azr/wdh)

No more pages