Kenaikan pesat Chen menyoroti bagaimana dukungan kuat China terhadap industri AI domestiknya telah melahirkan kelas elit teknologi baru yang sejalan dengan negara, hanya beberapa tahun setelah China menindak keras raksasa-raksasa sektor swasta.
Pada saat larangan ekspor Washington membatasi akses China terhadap chip canggih, perusahaan seperti Cambricon milik Chen muncul sebagai juara di domestik, dilindungi oleh mandat kebijakan dan antusiasme investor — simbol tatanan industri baru di mana dukungan politik, bukan kebebasan pasar, menentukan pemenang.
Pertanyaan tentang seberapa besar dukungan signifikan dari proteksionisme pemerintah telah berkontribusi pada lonjakan Cambricon — dibandingkan daya saing chipnya — telah membagi para pengamat tentang seberapa lama tren ini akan bertahan.
“Pertumbuhan pendapatan eksplosif Cambricon terutama disebabkan oleh titik start rendah, dan valuasi saat ini mungkin terinfasi tanpa dukungan kebijakan yang berkelanjutan,” kata Shen Meng, direktur di bank investasi Chanson & Co. yang berbasis di Beijing.
Kendati harta Chen masih jauh dari kekayaan bersih pendiri Nvidia, Jensen Huang, ia sudah menjadi orang terkaya ketiga di dunia di bawah usia 40 tahun, di belakang Lukas Walton dan Mark Mateschitz, pewaris kekayaan Walmart dan Red Bull masing-masing, menurut indeks tersebut.
Saham Cambricon — dan secara tidak langsung kekayaan bersih Chen — melonjak pada Agustus ketika Beijing mendesak perusahaan lokal untuk menghindari penggunaan prosesor H20 milik Nvidia Corp., terutama untuk proyek terkait pemerintah.
Cambricon tersebut mengambil langkah untuk meredam kegembiraan investor seputar sahamnya, dengan memperingatkan dalam pengajuan Agustus ke Bursa Efek Shanghai bahwa perusahaan masih berada di bawah sanksi AS dan menekankan kesulitan dalam menaiki tangga teknologi. Perusahaan juga membantah spekulasi tentang produk yang tidak ada dalam pipeline.
Dalam catatan broker pada waktu yang sama menyebutkan chip Siyuan 690 yang akan datang, meskipun diyakini masih tertinggal setidaknya beberapa tahun dari produk Nvidia yang setara.
“Masih terlalu awal mengatakan apakah Cambricon atau Huawei, desainer chip AI terkemuka di China, akan menjadi Nvidia China, karena ekosistem CUDA Nvidia yang lengkap sangat sulit untuk ditiru dengan cepat,” kata Sunny Cheung, peneliti di lembaga think tank Jamestown Foundation, merujuk pada bahasa pemrograman proprietary Nvidia yang terintegrasi dengan hardwarenya.
Cambricon tidak menanggapi permintaan komentar dari Bloomberg.
Meskipun ada pertanyaan tentang valuasi Cambricon, jalur kesuksesan Chen telah menjadi studi kasus bagi jalur akademik yang didukung negara di China, dimana hal tersebut turut mendorong terobosan mengejutkan startup AI DeepSeek dan pendirinya yang berusia milenial, Liang Wenfeng.
Chen lahir pada tahun 1985 di kota Nanchang, di bagian tenggara China , dari seorang ayah yang berprofesi sebagai insinyur listrik dan ibu yang berprofesi sebagai guru sejarah. Kecerdasan Chen yang luar biasa teridentifikasi sejak dini. Ia dan kakaknya, Chen Yunji, dimasukkan ke dalam program khusus untuk siswa berbakat di University of Science and Technology of China, di Hefei, di mana ia meraih gelar PhD dalam ilmu komputer pada tahun 2010.
Dari sana, Chen bergabung dengan saudaranya sebagai peneliti di Chinese Academy of Sciences, pusat ambisi ilmiah negara yang didanai oleh anggaran negara.
Di situlah kedua bersaudara tersebut pertama kali menarik perhatian internasional dengan publikasi akademik terkemuka tentang akselerator DianNao mereka pada tahun 2014. Setahun kemudian, mereka meluncurkan chip pertama mereka, prosesor terinspirasi otak untuk pembelajaran mendalam. Komponen tersebut diberi nama Cambricon, diambil dari ledakan Kambrium untuk menandakan sebagai titik awal evolusi awal bagi kecerdasan buatan.
Pada tahun 2016, proyek Cambricon dipisahkan dan didirikan sebagai perusahaan dengan akademi sebagai pendukung keuangan awal.
Mereka mencapai terobosan pertama pada tahun 2017 ketika Huawei menggunakan teknologi prosesor AI Cambricon untuk meningkatkan kemampuan fotografi dan gaming pada smartphone Mate 10-nya. Kerja sama tersebut berakhir pada tahun 2019 ketika Huawei mulai mengembangkan teknologi yang sama persis. Sejak itu, Cambricon secara bertahap beralih fokus ke desain dan penjualan chip AI untuk server cloud dan perangkat tepi.
Perusahaan tersebut terdaftar di Sci-Tech Innovation Board di Shanghai pada tahun 2020, tetapi terus merugi sebelum akhirnya mencatat laba kuartalan untuk pertama kalinya sejak penawaran umum perdana (IPO) pada periode tiga bulan hingga Desember 2024.
Cambricon mengalami kemunduran pada tahun 2022 ketika Departemen Perdagangan AS memasukkan Cambricon ke dalam daftar entitas yang dilarang karena pekerjaannya untuk “memperoleh pasokan asal AS untuk mendukung modernisasi militer China.” Hal tersebut membatasi kemampuan perusahaan untuk mengakses teknologi canggih Barat.
Namun, pembatasan AS tidak menghambat prospek Cambricon. Ketika Washington memperluas kontrol ekspor untuk melarang Nvidia dan AMD menjual chip AI berkemampuan tinggi ke China, hal itu menciptakan kekosongan pasokan. Beijing merespons dengan tegas, mewajibkan perusahaan teknologi dalam negeri mereka untuk “membeli produk lokal,” artinya perusahaan China kini harus memperoleh setidaknya sebagian chip mereka dari produsen domestik seperti Huawei atau Cambricon.
Permintaan melonjak. Pendapatan Cambricon melonjak lebih dari 500% dalam 12 bulan terakhir, meskipun bersaing dengan Huawei dan sejumlah startup domestik lainnya.
Meskipun Cambricon tetap menjadi pemain utama di sektor AI domestik untuk saat ini, investor mungkin akan mengalihkan perhatian mereka ke pesaing domestik lainnya seiring dengan kemajuan perusahaan seperti Moore Threads dan MetaX menuju rencana IPO di China. Sementara itu, produsen chip AI Biren Technology dan Iluvatar CoreX dilaporkan sedang mempersiapkan IPO di Hong Kong.
“Kenaikan mereka secara langsung disebabkan oleh kebutuhan mendesak negara-negara untuk memiliki akses ke infrastruktur hardware,” kata Shuman Ghosemajumder, co-founder dan CEO Reken, sebuah startup AI berbasis di San Francisco.
“Sama halnya dengan Nvidia, saya pikir mereka kemungkinan akan menghadapi fluktuasi dalam harga saham mereka saat orang-orang memutuskan seberapa banyak infrastruktur yang sebenarnya dibutuhkan untuk model AI generatif yang berguna secara praktis, dan seberapa besar ekspektasi tersebut telah dibesar-besarkan.”
(bbn)






























