"Dengan vaksinasi, deteksi dini, dan pengendalian faktor risiko seperti polusi udara dan rokok, kita dapat mencegah ribuan kematian setiap tahunnya," tegas Dr. Heidy.
Faktor risiko lingkungan yang disebut Dr. Heidy meliputi asap industri, asap kendaraan, pembakaran sampah, asap rokok, hingga penggunaan bahan bakar rumah tangga tanpa ventilasi yang memadai, yang semuanya dapat memperburuk kondisi paru.
PDPI secara khusus menyoroti beberapa pilar kolaborasi yang harus diperkuat oleh tenaga medis, pemerintah, dan masyarakat:
Peningkatan Imunisasi: Mendorong cakupan imunisasi untuk pencegahan Pneumonia, terutama vaksin pneumokokus dan influenza, untuk kelompok rentan.
Pengurangan Faktor Risiko: Mengurangi polusi udara, menghindari asap rokok (aktif, pasif, dan asap rokok ketiga), dan bersiap menghadapi cuaca ekstrem.
Pengendalian Komorbiditas: Mengontrol penyakit kronis yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap Pneumonia, seperti Diabetes Melitus, HIV, penyakit jantung, dan paru kronik.
Penggunaan Antibiotik Bijak: Mendorong masyarakat untuk tidak menggunakan antibiotik tanpa indikasi atau resep dokter.
PDPI juga menyerukan peningkatan akses diagnosis dan pengobatan di fasilitas kesehatan, termasuk ketersediaan alat diagnostik seperti foto toraks, laboratorium sederhana, oksigen, dan perawatan yang terstandar.
Lebih lanjut, PDPI akan terus melakukan advokasi kepada pemangku kebijakan untuk perbaikan regulasi dalam menghadapi penyakit katastropik ini.
"Kita harus bergerak dari sekadar pengobatan ke investasi dalam pencegahan dan perbaikan kualitas udara," tutup Dr. dr. Heidy Agustin.
"Kami berharap, melalui momentum 'Hari Pneumonia Sedunia' ini, seluruh masyarakat semakin sadar bahwa paru sehat adalah modal penting bagi kualitas hidup dan produktivitas bangsa," pungkasnya.
(dec/spt)




























