Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2025, konsorsium WIKA-CRIC-CRDC-CREC-CRSC mencatat saldo piutang dalam penyelesaian kontrak (PDPK) atas proyek KCJB senilai Rp5,02 triliun, yang merupakan klaim atas kelebihan biaya (cost overrun) terhadap KCIC sebagai pihak berelasi. Hingga tanggal otorisasi laporan keuangan, klaim tersebut masih dalam proses negosiasi.

Manajemen menyatakan upaya penyelesaian akan dilanjutkan melalui arbitrase pihak ketiga di Singapura.

“Kami sudah mengajukan ke arbitrase dan sedang menunggu hasil sidangnya. Data kami sudah cukup lengkap,” ujarnya.

Kereta cepat Whoosh. (dok. KCIC)

WIKA menambahkan, penyelesaian seluruh persoalan proyek kereta cepat kini berada di bawah koordinasi BPI Danantara. Perseroan juga menunggu keputusan pemerintah terkait restrukturisasi atau pengambilalihan porsi kepemilikan empat BUMN pemegang saham KCIC oleh pemerintah.

“Kalau pengambilalihan porsi pemerintah dilakukan, tentu akan berdampak positif bagi WIKA,” kata Direktur Utama.

Polemik Proyek Jumbo Whoosh

Adapun, proyek jumbo Whoosh ini telah menjadi fokus Danantara khususnya terkait rencana restrukturisasi utang yang membengkak. Upaya restrukturisasi dilakukan demi menghindari potensi gagal bayar (default).

CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengatakan, proses negosiasi restrukturisasi saat ini sedang berlangsung antara pemerintah Indonesia dan pemerintah China.

“Iya, sedang berjalan dengan pihak China, baik dengan pemerintah China, sedang berjalan,” ujar Rosan, Rabu (8/10/2025).

Sebagai informasi, konsorsium proyek KCJB melibatkan sejumlah BUMN, antara lain PT KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR). Total nilai investasi proyek ini mencapai US$7,2 miliar, termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sekitar US$1,2 miliar.

Proyek dibiayai melalui skema 75% pinjaman dari China Development Bank (CDB) dan 25% setoran modal pemegang saham, yakni PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebesar 60% serta Beijing Yawan HSR Co. Ltd. sebesar 40%.

Sekitar 75% dari total kebutuhan dana berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan tenor hingga 40 tahun, sementara 25% sisanya ditanggung oleh konsorsium pemegang saham.

Pinjaman utama dari CDB dikenakan bunga sekitar 2% per tahun, sedangkan tambahan pembiayaan akibat cost overrun memiliki bunga sekitar 3,4%. Dengan total pinjaman mencapai US$4,55 miliar, beban bunga tahunan proyek tersebut mendekati US$120 juta atau sekitar Rp1,9 triliun.

(dhf)

No more pages