Fenomena ini, lanjut Pandu, telah terlihat jelas dalam 12 bulan terakhir selaras dengan menurunnya pendanaan untuk startup tahap awal atau early-stage. Tren serupa juga terjadi di Amerika Serikat (AS)dan China, di mana pendanaan kini lebih banyak mengalir ke sektor tech growth.
Dengan kata lain, investor lebih memilih perusahaan yang telah melewati tahap uji coba dan siap ekspansi dengan risiko yang lebih terukur. "Jadi ini sekarang ada time aware bukan lagi venture risk," jelasnya.
Pandu menambahkan bahwa perubahan arah investasi ini juga didorong oleh munculnya gelombang baru di sektor kecerdasan buatan (AI). Di Indonesia, banyak perusahaan teknologi mulai mengembangkan AI aplikatif (applicable AI) yang dapat diterapkan langsung dalam proses bisnis.
Ia menilai perubahan ini menandakan fase baru dalam ekosistem startup dan investasi teknologi.
"Itu mungkin suatu terminologi baru yang mungkin kita pelajari. Untuk bisa aplikasi di bisnis di Indonesia, dan ada dua, baik B2B [business-to-business] ataupun B2C [business-to-costumer]. Tapi poinnya memang the business of venture itu sedang berubah juga," terangnya.
Sebagai catatan saja, mengutip dari data Tracxn per 3 November 2025, disebutkan bahwa selama beberapa tahun terakhir, sebanyak 124 investor aktif tercatat telah menanamkan investasi senilai lebih dari US$463 juta ke berbagai startup yang berbasis di Indonesia.
Dari total tersebut, terdapat 62 investor modal ventura (venture capital) dan 7 investor dana berdampak sosial (impact fund) yang berkontribusi terhadap pendanaan ekosistem startup nasional.
East Ventures tercatat sebagai investor paling aktif, dengan berpartisipasi dalam empat putaran pendanaan sepanjang tahun, terbanyak di antara lembaga modal ventura lainnya.
Secara keseluruhan, terdapat 780 dana modal ventura yang pernah berinvestasi di Indonesia, termasuk nama-nama besar seperti IVP, CapitalG, dan Glade Brook Capital.
IVP diketahui telah berinvestasi di satu perusahaan Indonesia, yakni Ajaib. CapitalG, anak usaha investasi Google, berinvestasi di LummoSHOP. Sementara Glade Brook Capital berinvestasi di KitaBeli.
(prc/wep)































