Menurut Fillianingsih, angka tersebut menegaskan bahwa sistem pembayaran digital telah menjadi bagian vital dalam perekonomian nasional. Ia menambahkan, Bali memiliki posisi strategis untuk menjadi contoh digitalisasi di sektor pariwisata nasional.
Untuk mendukung hal itu, BI meluncurkan tiga inisiatif utama dalam memperkuat ekosistem pembayaran digital di sektor wisata: Indonesia Tourist Travel Park, Buku Pedoman QRIS Wisata Nusantara, dan Tourism Information Center. Ketiga inisiatif tersebut bertujuan menciptakan pengalaman wisata yang lebih mudah, aman, dan sepenuhnya digital.
“Ketiga inisiatif ini ditujukan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang ramah wisatawan dan semakin siap menuju ekosistem pariwisata yang cashless dan digital,” ujar Fillianingsih.
Gubernur Bali yang diwakili oleh Dr. drh. Luh Ayu Aryani, M.P, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda Provinsi Bali, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya BALIGIVATION 2025. Ia menilai kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk menciptakan inovasi berbasis kearifan lokal demi mewujudkan Bali Pulau Digital.
Ia menjelaskan, Pemprov Bali telah menetapkan tiga arah kebijakan utama: membangun kebijakan digital dari hulu ke hilir, memperluas infrastruktur digital hingga pelosok, serta meningkatkan pemanfaatan teknologi dalam pelayanan publik dan kehidupan masyarakat.
“Festival ini menjadi wadah nyata untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dengan kemajuan teknologi, mewujudkan Bali Pulau Digital yang terhubung, inklusif, dan berdaya saing tinggi berbasis teknologi dengan tetap berlandaskan nilai-nilai adat,” tutur Ayu.
Ekonomi Kreatif dan Digitalisasi Bali
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kemenparekraf, Muhammad Neil El Himam, turut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif digital. Ia memaparkan, nilai pasar ekonomi kreatif Indonesia diproyeksikan mencapai USD 200 miliar pada tahun 2030, dengan dukungan lebih dari 143 juta pengguna media sosial.
“Ke depan, diperlukan penguatan kolaborasi dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan, sejalan dengan asta ekraf, yaitu delapan arah kebijakan utama pengembangan ekraf nasional. Hal ini menjadi kunci dalam mewujudkan ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan,” ungkap Neil.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, dalam laporannya menegaskan bahwa digitalisasi telah menjadi penggerak utama ekonomi Bali. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Bali mencapai 5,88% yoy pada Triwulan III 2025, menempati peringkat keempat tertinggi secara nasional.
Sektor pariwisata tetap menjadi tulang punggung, menyumbang hingga 64,29% terhadap devisa pariwisata nasional.
“Apa yang telah dicapai Bali dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat baik tidak lepas dari ekspansi digitalisasi di Provinsi Bali yang semakin masif. Digitalisasi di Bali telah menjadi mesin penggerak pertumbuhan, dan terlebih lagi turut mendorong kesejahteraan masyarakat,” kata Erwin.
Ia menjelaskan bahwa dampak digitalisasi dapat terlihat melalui tiga transmisi utama: inflasi yang terjaga, inklusi keuangan, serta perluasan akses pasar. Semua itu dapat tercapai berkat prinsip 3C: commitment, collaboration, dan communication yang dijalankan oleh seluruh pemangku kepentingan.
Dengan semangat kolaboratif ini, BALIGIVATION 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan Bali menuju pulau digital yang inklusif, berbudaya, dan berdaya saing global.
Laporan Kontributor Bali - Eko Sulestyono
(red)































