Logo Bloomberg Technoz

INCO menargetkan penjualan bijih nikel kadar tinggi atau saprolit sampai 2,2 juta ton pada semester II-2025, selepas persetujuan revisi RKAB didapat.

Dalam kesempatan terpisah, Wakil Presiden Direktur INCO Abu Ashar menjelaskan sepanjang tahun ini korporasi menargetkan produksi nickel matte sebanyak 71.234 ton dan telah terealisasi sejumlah 35.584 ton per semester I-2025.

Kala itu, Abu menyatakan perseroan belum memutuskan target produksi nickel matte untuk 2026, sebab korporasi tengah menunggu perbaikan fasilitas Furnace nomor 4 yang dimulai akhir tahun ini.

Untuk tahun depan, target produksi nickel matte masih menunggu perbaikan Furnace 4 pada kuartal IV-2025 dan diprediksi baru rampung pada Mei 2025.

“Ya nanti tentu kami akan menyelesaikan nanti setelah me-review semua fasilitas kami; apa yang bisa kami kembangkan untuk tahun depannya,” kata Abu dalam Public Expose (Pubex) Live 2025, Kamis (11/9/2025).

Di sisi lain, sepanjang semester I-2025 INCO telah memproduksi nickel matte sebesar 35.584 ton tumbuh sebesar 12% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sejumlah 34.774 ton.

Khusus pada kuartal II-2025, INCO telah menjual 18.023 ton nickel matte, realisasi penjualan ini lebih tinggi dari kuartal sebelumnya di level 17.027 ton.

Selain penjualan nickel matte, perseroan telah menjual sekitar 80.000 ton bijih saprolit kepada pembeli domestik, yang menandakan sumber pendapatan baru bagi perseroan tahun ini.

Realisasi pengiriman domestik itu menjadi bagian dari rencana penjualan yang disetujui sebesar 290.000 ton saprolit dalam RKAB akhir 2024.

Untuk diketahui, Vale saat ini tengah mengembangkan tiga tambang besar tersebar di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako yang dikombinasikan dengan pembangunan fasilitas smelter nikel hidrometalurgi yang digarap bersama GEM Co. Ltd. dan Danantara.

Tambang Bahodopi menjadi salah satu proyek strategis perseroan dalam diversifikasi produk. Dengan masuknya Bahodopi ke tahap produksi, INCO bisa meningkatkan eksposur penjualan saprolit, yang sebelumnya bertumpu pada nickel matte.

Setelah itu, proyek Pomalaa dijadwalkan menyusul pada kuartal II-2026, sedangkan Sorowako akan menjadi tahap akhir dari rangkaian ekspansi Vale Indonesia. Ketiga tambang tersebut sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan.

Dalam pengembangan lini hilir, Vale bermitra dengan sejumlah pemain global untuk membangun fasilitas smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL).

Untuk proyek Pomalaa, Vale telah bekerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co. Ltd. (Huayou) dan Ford Motor Co dalam pembangunan smelter-nya.

Untuk Bahodopi, proyek dilakukan bersama GEM Hong Kong International Co. Ltd., serta Danantara. Sementara itu, di Sorowako, Vale kembali berkolaborasi dengan Huayou.

(azr/wdh)

No more pages