Dicky menjelaskan, komunikasi risiko tidak hanya soal menyampaikan informasi kepada publik, tetapi juga bagian dari manajemen risiko secara menyeluruh. Negara seperti Jepang dan Jerman, kata dia, berhasil menjalankan RDF karena memiliki kontrol emisi ketat, sistem penyaringan ganda, dan pemantauan emisi berkelanjutan yang transparan.
Selain itu, RDF di negara maju umumnya tidak dibangun berdekatan dengan pemukiman warga. “Harus ada zona penyangga sekitar satu kilometer dari pemukiman, ditanami pohon sebagai filter alami,” jelas Dicky.
Ia menambahkan, data udara di sekitar lokasi RDF seharusnya juga dipublikasikan secara waktu nyata agar masyarakat merasa aman dan terlibat dalam pengawasan.
Meski menjanjikan efisiensi energi, proyek ini menuai sorotan dari kalangan kesehatan dan lingkungan karena berpotensi menghasilkan emisi berbahaya jika tidak dikelola dengan baik.
Pemerintah DKI diminta memastikan uji emisi, sistem penyaringan udara, serta keterlibatan masyarakat berjalan transparan dan konsisten.
(dec/spt)

























