Tak hanya itu, Pemprov DKI Jakarta juga telah berkoordinasi secara intensif dengan BMKG agar BPBD DKI Jakarta dapat melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca. Hal ini mengingat adanya potensi terjadinya anomali cuaca ekstrem selama 25 hari ke depan.
"Kami juga akan terus menyampaikan informasi cuaca, terlebih jika cuaca ekstrem pada masyarakat Jakarta agar lebih waspada melalui berbagai kanal media milik Pemprov DKI," ucap Pramono.
Pramono juga menginstruksikan jajarannya agar menerjunkan personel baik dari Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, BPBD, Gulkarmat, Pasukan Biru Dinas Sumber Daya Air, PPSU Kelurahan dan Satpol PP di seluruh wilayah untuk bersiaga selama cuaca ekstrem terjadi di Jakarta.
Hingga akhir Oktober 2025, tercatat 5.722 pohon dicek kesehatannya dan 62.161 pohon telah dipangkas untuk mencegah pohon tumbang. Pemangkasan pohon selama ini dilakukan setiap seminggu sekali yakni pada hari Rabu di seluruh wilayah kota administratif Jakarta.
Ingatkan Potensi Banjir 6-8 November
Pramono juga mengingatkan warga agar mewaspadai potensi terjadinya banjir rob pada 6-8 November mendatang. Ia berharap, banjir rob tidak terjadi secara bersamaan dengan banjir kiriman maupun banjir lokal.
Selain pohon tumbang, curah hujan tinggi juga menyebabkan banjir di sejumlah titik, terutama di Jakarta Selatan. Pramono menyebut, banjir mulai surut pada pukul 01.16 WIB atau Jumat dini hari, terutama di wilayah Kemang Raya.
"Pasukan Biru dari Dinas Sumber Daya Air bekerja keras mengoperasikan pompa agar air segera surut," kata dia.
Ia menyebut, banjir yang terjadi akibat luapan Kali Krukut karena adanya penyempitan sungai. Lebar kali yang seharusnya 20-30 meter kini hanya tersisa 5-10 meter.
Karena itu, Pramono menegaskan komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk segera menyelesaikan normalisasi Kali Ciliwung dan Kali Krukut untuk mengatasi masalah banjir di sekitar wilayah tersebut.
(ell)































