Secara aturan, program SMK 4 tahun dimungkinkan. Mu’ti menyebut model ini memungkinkan alokasi satu tahun terakhir secara penuh untuk mempersiapkan siswa memasuki dunia kerja.
“Beberapa itu sudah ada yang SMK memang sejak awal 4 tahun, di Semarang itu ada dulu namanya SMK Pembangunan itu 4 tahun sejak awal. Yang satu tahun terakhir itu dipersiapkan mereka masuk dunia kerja,” jelasnya.
2. Keunggulan Lokal sebagai Basis Kurikulum
Mu’ti mendorong SMK untuk berbasis keunggulan lokal, mengintegrasikan program keahlian dengan potensi daerah, seperti di wilayah perkebunan kopi, teh, atau kelautan. Ia mengkritik SMK yang tidak selaras dengan kondisi geografis dan ekonominya.
“Saya ada kritik, mohon maaf, ada SMK didaerah perkebunan teh, jurusannya komputer jaringan. Padahal disitu banyak teteh-teteh yang bisa memetik daun teh,” sindirnya.
3. Kemitraan Industri 'Tailor Made' dan By Order
Strategi ini berfokus pada kemitraan langsung dengan industri berdasarkan kebutuhan spesifik (by order). Mu’ti mencontohkan kerja sama dengan perusahaan penangkapan ikan yang membutuhkan tenaga ahli mesin pendingin kapal.
Dalam model Tailor Made ini, praktik tidak lagi di laboratorium sekolah, melainkan langsung di kapal atau lokasi perusahaan. Syaratnya: siswa yang lolos harus berkomitmen untuk bekerja di perusahaan tersebut.
4. Dorongan Tenaga Kerja Muda ke Luar Negeri
Mu’ti menegaskan, peluang kerja internasional terbuka lebar. Kemendikdasmen telah menjalin Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kementerian P2MI (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat/Kementerian yang membidangi Pekerja Migran Indonesia) untuk menyiapkan tenaga kerja ke luar negeri.
“Kami sudah kumpulkan SMK SMK yang punya kerjasama dengan luar negeri jumlahnya ratusan terutama di negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan yang memang perlu tenaga-tenaga muda untuk kerja di berbagai sektor,” ungkapnya.
Dengan strategi ini, Mu’ti berharap lulusan SMK tidak lagi fokus pada sektor formal yang kompetitif. Pihaknya juga mendorong kewirausahaan melalui materi entrepreneurship dalam kurikulum, sehingga lulusan dapat membuka usaha mandiri tanpa harus menggantungkan diri pada lowongan pekerjaan.
(fik/spt)




























