“Jadi, dinamika kebijakan berubah. Ditambah lagi dari sisi kebijakan moneter. Jadi, kalau kita lihat alignment kebijakannya itu memang terukur,” tuturnya.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi ke depan akan lebih solid setelah masa transisi selesai atau pada 2026.
Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto relatif di angka 5% saat ini. Kendati demikian, dia berharap, terdapat pemerataan pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah.
“Dalam konteks meningkatkan distribusi kue ekonominya itu lebih merata kepada segmen-segmen yang memang memerlukan, terutama untuk yang kelas menengah bawah,” katanya.
Leo menuturkan paket stimulus kebijakan fiskal ketiga, terdapat 17 program stimulus, 8 di antaranya dilaksanakan sampai akhir 2025 karena fokus pemerintah bukan hanya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, namun narasi menciptakan lapangan kerja.
“Makanya kan sekarang ada internship program yang tadinya untuk 20.000 lulusan universitas sekarang dinaikkan menjadi 80.000. Kalau kita lihat misalnya dari 8 program stimulus yang pertama, ada program yang fokusnya itu cash forward,” tuturnya.
Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III- 2025 akan berada di kisaran 5%-5,1%.
Estimasi ini sedikit lebih rendah dibanding realisasi produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II 2025 yang berada di level 5,12%.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Nathan Kacaribu meyakini bahwa ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini memiliki ketahanan cukup tinggi.
Menurut dia, hal ini salah satunya ditopang oleh keberhasilan Indonesia dalam bernegosiasi tarif dagang internasional dengan Amerika Serikat (AS).
Dia mengklaim kondisi tersebut kemudian juga direspons oleh dunia usaha dengan indeks PMI manufaktur yang tetap ekspansif.
"Jadi harapannya tadi kuartal III kelihatannya akan cukup resilient, mungkin sekitar 5%, 5,1% karena ekspor kita masih bagus untuk kuartal III," ujar Febrio, Kamis (9/10/2025).
Kendati terdapat gejolak dari sektor sosial dan politik beberapa waktu lalu, namun Febrio berharap kondisi tersebut tak berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
"Walaupun kemarin sempat ada risiko sosial politik, kita harapkan bisa tetap resilient di kuartal ke-3," kata dia.
Selanjutnya, kata dia, pada kuartal IV 2025, kondisi ekspor akan terus ekspansif sejalan dengan indeks PMI Manufaktur. Pertumbuhan ekonomi periode akhir tahun juga akan ditopang oleh adanya insentif dalam paket stimulus ekonomi dari pemerintah.
(mfd/naw)





























