Selain itu, lanjut dia, posisi suku bunga dana pihak ketiga (DPK) special rate (SR) kepada deposan juga juga tercatat masih cukup tinggi sebesar 26,3% dari total DPK, atau mencapai Rp2.549,8 triliun.
"Ini yang kita perlu menjadi perhatian kita bersama," tutur dia."Ini yang membuat memang transmisi suku bunga perbankan kita cenderung terbatas."
BI sebelumnya memang telah kerap kali mendesak perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit dan suku bunga deposito, sejalan dengan adanya pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh bank sentral, serta penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di perbankan.
Gubernur BI Perry Warjiyo memandang penurunan suku bunga perbankan perlu didorong seiring dengan kondisi suku bunga acuan atau BI Rate yang sudah menurun hingga 150 basispoin (bps) sejak September 2024 dan ekspansi likuiditas moneter BI.
Dia menyebutkan penurunan suku bunga kredit perbankan berjalan sangat lambat, yaitu sebesar 15 bps dari 9,20% pada awal 2025 menjadi sebesar 9,05% pada September 2025.
Dibanding penurunan BI-Rate sebesar 150 bps, suku bunga deposito 1 bulan hanya turun sebesar 29 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,52% pada September 2025. "Penurunan suku bunga perbankan masih berjalan lambat dan karenanya perlu dipercepat," tegas Perry.
Padahal, dalam perkembangannya, Suku bunga INDONIA sudah turun 204 bps dari 6,03% pada awal 2025 menjadi 3,99% pada 21 Oktober 2025.
Selain itu, suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan juga menurun masing-masing sebesar 251 bps, 254 bps, dan 257 bps sejak awal 2025 menjadi 4,65%, 4,67%, dan 4,70% pada 17 Oktober 2025.
Imbal hasil SBN untuk tenor 2 tahun bahkan telah menurun sebesar 218 bps dari 6,96% pada awal 2025 menjadi 4,78% pada 21 Oktober 2025, sementara untuk tenor 10 tahun menurun sebesar 132 bps dari tingkat tertinggi 7,26% pada pertengahan Januari 2025 menjadi 5,94%.
(lav)




























