Logo Bloomberg Technoz

Rosneft — yang dipimpin sekutu dekat Putin, Igor Sechin — bersama dengan Lukoil, merupakan dua produsen minyak terbesar di Rusia dan secara bersama menyumbang hampir setengah dari total ekspor minyak mentah negara itu, menurut perkiraan Bloomberg. Pajak dari sektor minyak dan gas sendiri menyumbang sekitar seperempat dari anggaran federal Rusia.

“Saya merasa sekarang adalah waktunya,” ujar Trump dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Oval Office. Ia menambahkan bahwa ia berharap “sanksi ini tidak akan berlangsung lama” dan perang dapat segera berakhir.

“Setiap kali saya berbicara dengan Vladimir, kami punya percakapan yang baik, tapi tidak pernah menghasilkan apa pun,” kata Trump. Ia menegaskan, pertemuan dengan pemimpin Rusia itu masih mungkin dilakukan di masa depan.

Sebelum keputusan ini, Trump berulang kali menunda ancaman sanksi dan langkah hukuman lainnya terhadap Rusia. Pada 29 Juli, ia memberi waktu 10 hari kepada Moskow untuk mencapai gencatan senjata dengan Ukraina. Namun tenggat 8 Agustus berlalu tanpa tindakan lebih lanjut dari AS. Pertemuan Trump dengan Putin di Alaska pun tidak menghasilkan kemajuan berarti.

Langkah pada Rabu ini sebelumnya juga pernah dipertimbangkan oleh mantan Presiden Joe Biden menjelang akhir masa jabatannya. Namun, Biden menahan diri karena khawatir hal itu akan mengguncang pasar energi global dan memicu lonjakan harga minyak. Mengingat fokus Trump untuk menjaga harga bensin tetap rendah, keputusan ini menjadi pertaruhan besar dan menandakan kesabarannya terhadap Putin mulai menipis. Dalam pertemuan di Oval Office, Trump bahkan memperkirakan harga bensin bisa turun menjadi US$2 per galon.

Trump sebelumnya juga sempat ragu terhadap rencana Senat untuk memperketat sanksi terhadap Rusia dan enggan berkomitmen mengirim rudal Tomahawk ke Ukraina. Meskipun retorikanya terhadap Putin terdengar lebih keras, Trump pada Rabu menegaskan kecil kemungkinan ia mengirim Tomahawk, dengan alasan senjata itu hanya efektif jika diluncurkan langsung oleh AS — dan AS tidak akan melakukannya.

Belum jelas apakah langkah terbaru ini akan benar-benar memengaruhi perhitungan Putin soal perang. Pemerintahan Biden sebelumnya telah menjatuhkan berbagai gelombang sanksi terhadap Rusia setelah invasi pada 2022, yang melemahkan ekonomi Rusia namun tak menghentikan agresi Moskow.

Thomas Graham, peneliti di Council on Foreign Relations, menilai sanksi terbaru ini mungkin tidak akan sebesar yang diharapkan Trump.

“Jika Gedung Putih berpikir langkah ini akan menyebabkan perubahan besar dalam kebijakan Kremlin atau Putin, mereka sedang menipu diri sendiri — dan saya rasa mereka pun sebenarnya tidak benar-benar percaya itu,” kata Graham.

Menurutnya, “Sanksi bekerja perlahan, dan Kremlin sangat mahir menghindarinya.” Ukraina menyambut langkah AS tersebut.

“Untuk pertama kalinya di bawah kepemimpinan Presiden AS ke-47, Washington memutuskan menjatuhkan sanksi penuh terhadap perusahaan energi Rusia,” ujar Duta Besar Ukraina Olga Stefanishyna dalam pernyataan resminya. Ia menambahkan, “Perdamaian hanya mungkin dicapai melalui kekuatan dan dengan memberi tekanan pada agresor menggunakan seluruh instrumen internasional yang tersedia.”

Sementara itu, pada Rabu pagi di Ukraina, Rusia kembali melancarkan serangan drone dan rudal, menewaskan sedikitnya tujuh warga sipil, termasuk anak-anak. Serangan ini melanjutkan peningkatan intensitas terhadap infrastruktur energi Ukraina, sementara Kyiv membalas dengan menargetkan kilang minyak Rusia.

Inggris telah lebih dulu menjatuhkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil pekan lalu. Pada Kamis, Uni Eropa dijadwalkan mengumumkan paket sanksi baru yang mencakup larangan impor gas alam cair (LNG) Rusia, guna semakin menekan pendapatan energi Moskow dan memaksa Putin ke meja perundingan.

AS dan sekutunya di G-7 sebelumnya menerapkan batas harga pada ekspor minyak Rusia pada 2022 untuk mencegah lonjakan harga minyak global. Saat itu, harga Brent sempat menyentuh US$139 per barel setelah perang dimulai — namun kini jauh lebih rendah.

(bbn)

No more pages