"Meningkatnya permintaan dan pasokan telah menstabilkan harga di beberapa industri, seperti tambang batu bara dan peralatan surya," papar Dong Lijuan, Kepala NBS, dalam pernyataannya.
Ekonomi terbesar kedua di dunia ini sudah terjebak dalam deflasi sejak akhir pandemi, di mana krisis pasar properti memperparah lemahnya permintaan konsumen. Kelebihan kapasitas di beberapa industri menyebabkan produksi berlebih, memaksa perusahaan memangkas harga demi bisa bertahan.
Tekanan deflasi terus berlanjut meski pemerintah berusaha memperlambat atau menghentikan perang harga yang sengit dan persaingan di antara produsen. Deflator PDB China—indikator harga paling luas—menurun selama lebih dari dua tahun, periode terpanjang sejak data kuartalan dimulai pada 1992.
Sembilan kuartal beruntun penurunan harga secara keseluruhan mencerminkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, sehingga membebani neraca perusahaan dan menekan pendapatan rumah tangga serta pemerintah. Citigroup Inc memprediksi deflator PDB tetap di kisaran minus 1,3% pada kuartal III-2025.
Pemerintah China menurunkan target resmi inflasi konsumen menjadi sekitar 2% untuk 2025, level terendah dalam lebih dari dua dekade. Meski begitu, pertumbuhan harga telah mendekati nol atau negatif hampir sepanjang tahun ini.
China akan mengumumkan data aktivitas ekonomi kuartal III-2025 pada 20 Oktober, di mana sebagian besar analis memprediksi perlambatan dibandingkan paruh pertama tahun ini.
Performa kuat pada dua kuartal pertama kemungkinan berarti China akan mencapai target pertumbuhan resmi sekitar 5%. Stimulus baru mungkin tidak ada dalam agenda pertemuan Partai Komunis yang berkuasa pada akhir bulan ini.
(bbn)






























