Logo Bloomberg Technoz

“Paling penting tetap pada kesadaran individu. Kalau akses rokok dipersempit tapi kesadaran masyarakat belum tumbuh, upaya itu bisa jadi kurang efektif. Di sinilah peran kami, tenaga kesehatan, untuk terus mengedukasi,” lanjutnya.

Peran Tenaga Kesehatan: Edukasi Harus Dimulai dari Praktik Sehari-hari

dr. Chintya menyebutkan bahwa edukasi dan promosi hidup tanpa rokok bisa dimulai dari ruang praktik dokter anak. Menurutnya, percakapan sederhana saat pemeriksaan kesehatan bisa jadi momen penting untuk menyampaikan pesan antitembakau.

“Misalnya saat anak batuk pilek, kita bisa tanya: ‘Apakah ada yang merokok di rumah?’ Itu jadi pintu masuk untuk mengedukasi. Diulang terus setiap kali ada kesempatan. Walau kecil skalanya, dampaknya bisa besar jika dilakukan konsisten,” ujarnya.

Ia juga mendorong tenaga kesehatan untuk memanfaatkan media sosial sebagai alat kampanye antitembakau, karena jangkauannya luas dan bisa menyasar langsung kelompok muda.

“Media sosial punya pengaruh besar. Kita bisa gunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan, terutama soal bahaya rokok dan rokok elektronik,” tambahnya.

Ajakan untuk Pemerintah: Prioritaskan Perlindungan Anak

dr. Chintya berharap ke depan, kebijakan fiskal seperti cukai rokok bisa dikaji ulang dengan mempertimbangkan aspek kesehatan masyarakat, terutama perlindungan terhadap anak-anak sebagai kelompok paling rentan.

“Kalau bicara soal investasi masa depan bangsa, kesehatan anak-anak harus jadi prioritas. Kenaikan cukai rokok adalah salah satu langkah strategis yang terbukti menurunkan konsumsi, dan seharusnya tetap dijalankan secara konsisten,” pungkasnya.

(dec/spt)

No more pages