Logo Bloomberg Technoz

Pertama, akumulasi ketidakcocokan yang selama bertahun-tahun dipendam demi anak-anak.

 “Banyak pasangan memilih bertahan saat anak masih kecil, tapi ketika anak mandiri, mereka memutuskan berpisah,” ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa dalam konsep jodoh, keserasian tidak hanya soal jenis kelamin, tapi juga soal kesesuaian nilai dan kemampuan saling melengkapi.

Kedua, perbedaan kebutuhan dan gaya hidup. Pada usia lanjut, sebagian individu masih aktif dan ingin menikmati waktu dengan bepergian, sementara pasangannya lebih memilih ketenangan di rumah.

 “Perbedaan ritme ini sering menjadi sumber ketegangan emosional,” katanya.

Ketiga, aspek biologis dan psikologis juga turut berpengaruh. Ada pasangan yang masih memiliki kebutuhan batin tinggi, sementara yang lain sudah kehilangan minat terhadap relasi intim.

 “Ketidakseimbangan ini bila tidak dikelola bisa menimbulkan jarak emosional,” jelas Soeprapto.

Selain itu, menurunnya kemampuan mengendalikan diri terhadap rasa jenuh atau bosan serta ketidakmauan untuk menerima penurunan kualitas pasangan di usia tua turut memperkuat alasan perceraian. “Di masa tua, idealnya pasangan saling memahami dan menutup kekurangan, bukan saling menunjuk kelemahan,” ucapnya.

Soeprapto menilai, meningkatnya gray divorce juga menjadi refleksi perubahan nilai-nilai sosial masyarakat Indonesia, di mana perceraian kini tidak lagi dianggap tabu, bahkan oleh kalangan usia lanjut.

 “Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi dari mempertahankan status perkawinan menuju pencarian kesejahteraan emosional individu,” pungkasnya.

Ia pun menekankan pentingnya pembinaan emosional bagi pasangan lanjut usia. “Kebahagiaan rumah tangga di usia senja sangat ditentukan oleh kemampuan dua individu menjaga harmoni, bukan sekadar bertahan dalam ikatan formal,” tutur Soeprapto.

(dec/spt)

No more pages