Komoditas lain pemicu inflasi Agustus ialah emas perhiasan dengan andil mencapai 0,08%. Kemudian, sigaret kretek mesin, biaya kuliah, akademi dan perguruan tinggi, dan cabai hijau.
Di sisi lain, komoditas yang memberi andil deflasi adalah bawang merah, tomat, dan beberapa komoditas lain, serta biaya sekolah menengah atas.
Sebelumnya, laju inflasi Indonesia pada September diperkirakan terakselerasi. Kenaikan harga sejumlah bahan pokok dianggap menjadi biang keladi.
Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg dengan melibatkan 12 ekonom/analis hingga Selasa (30/9/2025) pagi menghasilkan median proyeksi inflasi September sebesar 0,11% (mtm). Jika terwujud, maka lebih cepat ketimbang Agustus yang deflasi 0,08%.
Harga sejumlah komoditas pangan bergerak naik dalam sebulan terakhir. Mengutip catatan Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dalam sebulan terakhir adalah Rp 12.559/kg. Angka ini menunjukkan 0,47% di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) nasional.
Sementara rata-rata harga beras medium sepanjang 31 Agustus-30 September adalah Rp 13.951/kg. Setara dengan 3,34% di atas HET.
Sedangkan harga beras premium selama sebulan ini ada di Rp 16.073/kg. Ekuivalen 7,87% di atas HET.
Harga rata-rata bawang merah dalam sebulan terakhir adalah Rp 42.166/kg. Sama dengan 1,6% di atas Harga Acuan Pembelian (HAP).
Kemudian rata-rata harga gula konsumsi selama sebulan ini ada di Rp 18.156/kg. Angka yang mewakili 3,75% di atas HAP.
Lalu rerata harga minyak goreng Minyakita dalam sebulan terakhir adalah Rp 17.499/liter. Ini adalah 11,46% di atas HET.
(lav)




























