Berikut lima poin penting dari pidato Trump di Sidang Majelis Umum PBB.
Ceramah Imigrasi
Trump menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang sidang Majelis Umum dengan mengkritik kebijakan imigrasi negara-negara lain, menuduh PBB "mendanai serangan terhadap negara-negara Barat" karena kontrol imigrasi kurang memadai dan memperingatkan bahwa tatanan Barat sedang dihancurkan.
"Jika kalian tidak menghentikan orang-orang yang belum pernah kalian lihat sebelumnya, yang tidak memiliki kesamaan dengan kalian, negara kalian akan gagal," ujarnya.
Hal ini pada dasarnya merupakan ceramah dan peringatan bagi Eropa, yang mengalami gelombang imigran dari Afrika dan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir, bahwa pendekatannya yang secara tajam membatasi imigran masuk ke AS adalah satu-satunya cara untuk melestarikan warisan nasional.
"Begitu kami mulai menahan dan mendeportasi semua orang yang melintasi perbatasan—dan mengusir imigran ilegal dari AS—mereka berhenti datang," klaim Trump.
Dia mengatakan para pemimpin lain, terutama di Eropa, sebaiknya mengikuti jejaknya.
"Kalian melakukannya karena ingin bersikap baik. Kalian ingin bersikap benar secara politis, dan kalian menghancurkan warisan kalian," ujar Trump.
Perubahan Iklim: 'Penipuan Terbesar'
Trump mencemooh prediksi masa lalu yang memperingatkan bencana global akibat perubahan iklim dan mendesak negara-negara lain untuk menghentikan inisiatif energi hijau yang bertujuan mengurangi emisi karbon.
Perubahan iklim, katanya, adalah "penipuan terbesar yang pernah dilakukan di dunia."
Sebagian besar ilmuwan iklim telah menyimpulkan bahwa perubahan iklim sedang terjadi, dan mayoritas disebabkan oleh polusi bahan bakar fosil. Saat ini, dunia sudah merasakan dampaknya: banjir menjadi semakin ekstrem dan mematikan, kekeringan semakin meluas dan parah, serta gelombang panas semakin berbahaya.
Trump tidak mempercayainya.
"Semua prediksi yang dibuat oleh PBB dan banyak pihak lain, seringkali dengan alasan yang buruk, salah," klaimnya. "Prediksi-prediksi itu dibuat oleh orang-orang bodoh."
Dia juga mengklaim bahwa kebijakan energi hijau memungkinkan negara-negara tanpa batasan tersebut—terutama di negara berkembang—menghasilkan uang, sementara AS tertinggal.
"Dampak utama dari kebijakan energi hijau yang brutal ini bukanlah untuk membantu lingkungan, tetapi untuk mengalihkan aktivitas manufaktur dan industri dari negara-negara maju yang mengikuti aturan gila yang diberlakukan ke negara-negara pencemar yang melanggar aturan dan meraup untung besar," ucap Trump.
Tidak Ada Perubahan Signifikan terkait Ukraina atau Gaza
Saat berpidato, Trump hanya memberikan sedikit informasi baru saat membahas perang di Ukraina dan Gaza, dua konflik yang pernah ia katakan akan mudah diselesaikan, tetapi masih berkecamuk selama delapan bulan setelah ia menjabat.
Ia menyesalkan meningkatnya momentum solusi dua negara di PBB pekan ini sebagai "hadiah" bagi Hamas, sambil kembali menyerukan gencatan senjata dan mengakhiri konflik di Gaza yang hingga kini sulit terwujud.
Ia mengakui bahwa mengakhiri perang di Ukraina ternyata lebih sulit dari yang ia perkirakan, mengatakan hubungan baiknya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin belum menghasilkan negosiasi damai yang efektif.
Namun, alih-alih mengarahkan kemarahannya pada Moskow, Trump justru mengecam negara-negara Eropa karena terus membeli produk energi Rusia.
"Ini memalukan bagi mereka, dan sangat memalukan bagi mereka ketika saya mengetahuinya," kata Trump. "Mereka harus segera menghentikan semua pembelian energi dari Rusia. Jika tidak, kita semua hanya membuang-buang waktu."
Negara-negara Eropa secara drastis telah mengurangi pembelian minyak dari Rusia sejak invasi Ukraina, tetapi tetap membeli gas alam. Dua negara, Hungaria dan Slovakia, merupakan yang paling besar membeli minyak Rusia di Eropa.
Trump memang mengidentifikasi China dan India sebagai "pendana utama perang yang sedang berlangsung dengan terus membeli minyak Rusia," tetapi juga menuduh negara-negara Eropa turut berkontribusi.
Presiden AS juga mengisyaratkan bahwa ia mungkin akan berbicara dengan "sahabatnya," Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán, untuk menghentikan pembelian minyak Rusia.
Namun, setelah berpidato, Trump secara mencolok mengubah retorikanya tentang Rusia—tanpa komitmen konkret tentang tindakan spesifik AS.
Pertama, dalam pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di sela-sela Sidang Umum PBB, Trump mengatakan dia yakin negara-negara NATO harus menembak jatuh pesawat Rusia jika memasuki wilayah udara mereka. Komentar ini penting karena aliansi pertahanan tersebut menghadapi potensi perluasan perang, meski Trump tidak secara eksplisit mengatakan AS akan ikut serta dalam upaya tersebut.
Kemudian, Trump mengunggah di media sosial Truth Social bahwa ia yakin Ukraina dapat terus berjuang dan "MEMULIHKAN kembali seluruh Ukraina ke bentuk aslinya."
"Dengan waktu, kesabaran, dan dukungan finansial dari Eropa, khususnya NATO, perbatasan asli tempat perang ini dimulai, sangat mungkin diwujudkan. Mengapa tidak?" tulis Trump dalam unggahan panjang, menambahkan, "Ukraina akan mampu merebut kembali negaranya dalam bentuk aslinya, dan siapa tahu, bahkan mungkin melampaui itu! Putin dan Rusia dalam masalah ekonomi besar, dan inilah saatnya Ukraina bertindak."
Komentarnya merupakan pertama kali sejak menjabat bahwa ia menyatakan negara tersebut dapat merebut kembali seluruh wilayah yang telah diambil Rusia sejak 2014. Sebelumnya, ia menyarankan Ukraina agar menyerahkan sebagian wilayahnya untuk mencapai kesepakatan damai.
Peralatan—dan Institusi Rusak
Trump menggunakan eskalator yang rusak dan teleprompter yang tidak berfungsi untuk menekankan keluhannya yang mendalam tentang PBB.
"Inilah dua hal yang saya dapatkan dari PBB: eskalator yang rusak dan teleprompter yang rusak," katanya. (Ketika ia tiba di gedung PBB di East River, New York, eskalator tersebut berhenti saat ia sedang naik).
Juru bicara PBB mengatakan "mekanisme keamanan bawaan" pada eskalator tersebut terpicu, menyebabkannya berhenti saat Trump mencoba menggunakannya. Dalam catatan panjang pada Selasa malam, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric menjelaskan mekanisme tersebut mungkin terpicu oleh videografer dari delegasi AS.
Namun, keluhan Trump terhadap PBB jauh melampaui peralatan yang rusak.
"Apa tujuan PBB?" tanyanya dalam pidatonya. Ia kemudian menambahkan: "Sebagian besar, setidaknya untuk saat ini, yang mereka lakukan hanyalah menulis surat yang sangat keras dan tidak pernah menindaklanjuti surat tersebut. Itu hanyalah omong kosong, dan omong kosong tidak menyelesaikan perang."
Trump bukanlah satu-satunya yang mempertanyakan efektivitas PBB, yang relevansinya menurun drastis selama dekade terakhir. Dewan Keamanan yang terkunci dan lapisan birokrasi yang kaku telah mempersulit badan tersebut mencapai tujuannya dalam mempromosikan perdamaian dan stabilitas global.
Namun, Trump melangkah lebih jauh dalam merusak reputasinya, dengan memangkas dana AS untuk lembaga tersebut dan memotong dana untuk bantuan kemanusiaan dan operasi penjaga perdamaian di luar negeri. Ia juga menarik AS dari badan-badan PBB yang menangani budaya, kesehatan, dan hak asasi manusia.
Pada Selasa, ia juga tampak kesal karena PBB mengabaikan upayanya untuk mengakhiri konflik global.
"Saya mengakhiri tujuh perang, berurusan dengan pemimpin masing-masing negara tersebut, dan bahkan tidak pernah menerima panggilan telepon dari PBB yang menawarkan bantuan untuk menyelesaikan kesepakatan tersebut," katanya. "Yang saya dapatkan dari PBB hanyalah eskalator, yang saat naik, berhenti tepat di tengah jalan."
Tak Sesuai Naskah
Pidato Trump dimulai tanpa teleprompter, tetapi saat ia melantur ke berbagai topik, sepertinya ia tidak benar-benar membutuhkan naskah.
Ia mulai melantur tentang upaya pengurangan kejahatan di kota-kota AS, jejak karbon Barack Obama, upaya renovasi markas besar PBB yang terhambat, dan efektivitas turbin angin.
"Kita tidak menginginkan sapi lagi. Saya rasa mereka ingin membunuh semua sapi," katanya tanpa penjelasan.
Jika ada benang merah, itu adalah kritiknya terhadap cara sebagian besar dunia—dan PBB sendiri—menangani masalah, serta penjelasan tentang bagaimana pendekatannya lebih baik. Akan tetapi, bahkan bagi Trump, lanturan-lanturan tersebut mengejutkan.
"Di Asia, mereka membuang sebagian besar sampah mereka langsung ke laut," ujarnya.
Para delegasi global yang hadir tidak menunjukkan reaksi yang jelas, kecuali tertawa saat mendengar dia menceritakan pertemuannya dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di belakang panggung.
Pidatonya melampaui batas waktu 15 menit, meski dia bukanlah satu-satunya pemimpin dunia yang melampaui waktu yang ditentukan.
(ros)





























