Selain itu, janji edukasi gizi kepada siswa harus diwujudkan agar anak tidak lagi membuang sayur dan bisa belajar mengenal keragaman bahan pangan.
Rekomendasi berikutnya, Tan mendorong agar Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas juga dilibatkan. Selama ini, ia menyebut TPG hanya jadi “pot kembang” yang dibiarkan di pinggir tanpa peran signifikan, sementara guru-guru terbebani urusan distribusi makanan hingga membayar tray yang hilang.
Ia juga meminta menu lokal dijadikan 80% dari isi MBG. Tan mencontohkan, anak Papua bisa diberi ikan kuah asam, anak Sulawesi dengan kapurung, bukan malah burger, spaghetti, atau bakmi gacoan berbahan tepung terigu yang tidak tumbuh di Indonesia.
“Kalau anak request cilok, ya bisa dimodifikasi jadi bakso ikan. Itu cerdas. Tapi kalau tetap dipaksakan burger dengan isi olahan pink mirip karton, itu bukan tujuan MBG,” tuturnya.
(dec/spt)






























