Upaya Nvidia dan OpenAI merupakan bagian dari dorongan global membangun pusat data untuk mendukung generasi baru tool AI — sebuah proyek raksasa yang diperkirakan menelan biaya triliunan dolar AS. Pembangunan ini membutuhkan chip, server, sistem pendingin canggih, serta pasokan listrik dalam jumlah besar.
Skala proyek Nvidia–OpenAI sangat masif: sepuluh gigawatt setara dengan puncak kebutuhan listrik Kota New York.
“Investasi dan kemitraan infrastruktur ini adalah lompatan besar berikutnya — menghadirkan 10 gigawatt untuk menggerakkan era kecerdasan berikutnya,” kata CEO Nvidia Jensen Huang dalam pernyataan resmi.
Kesepakatan ini memperkuat hubungan Nvidia dengan mitra pentingnya. OpenAI, produsen chatbot terkemuka, tengah berupaya memperluas infrastruktur AI mereka sendiri. Kesepakatan ini sekaligus menegaskan bahwa OpenAI akan tetap menjadi pelanggan utama Nvidia, meski perusahaan itu juga menjajaki pemasok lain.
Nvidia juga berupaya menampilkan diri sebagai pendukung pembangunan infrastruktur teknologi dalam negeri, yang menjadi prioritas pemerintahan Donald Trump. Hubungan baik dengan Gedung Putih penting bagi Nvidia, terutama saat perusahaan ini meminta pelonggaran pembatasan ekspor ke China.
Pekan lalu, Nvidia juga sepakat menginvestasikan hingga US$5 miliar di Intel Corp, produsen chip yang kini sebagian sahamnya dimiliki pemerintah AS.
CEO OpenAI Sam Altman mengatakan kesepakatan dengan Nvidia akan membuka jalan bagi terobosan baru AI dengan menjamin ketersediaan daya komputasi. “Segalanya dimulai dengan komputasi,” ujar Sam Altman. “Infrastruktur komputasi akan menjadi dasar bagi ekonomi masa depan.”
ChatGPT saat ini digunakan oleh sekitar 700 juta orang setiap pekan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, OpenAI harus mengerahkan daya komputasi besar, yang sebelumnya sempat membatasi kemampuan perusahaan memenuhi lonjakan permintaan, terutama saat peluncuran produk baru.
Nvidia dan OpenAI tidak merinci waktu pelaksanaan investasi ini. Namun dalam pernyataan bersama, keduanya menyebut sedang menuntaskan detail kerja sama strategis tersebut dalam beberapa pekan ke depan.
Menurut Huang, proyek ini mencakup hingga 5 juta cip Nvidia — jumlah setara dengan total produksi cip perusahaan dalam setahun. “Ini proyek raksasa,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC.
Nvidia belakangan juga aktif dalam ekspansi infrastruktur komputasi di Inggris, Prancis, dan Timur Tengah, serta mendukung sejumlah startup AI.
“Skala kemitraan dengan OpenAI ini tampak jauh melampaui kesepakatan lainnya,” kata Stacy Rasgon, analis di Bernstein Research. Ia menambahkan, dampak pendapatan dari proyek ini kemungkinan akan lebih besar daripada nilai investasinya.
Nvidia saat ini menguasai pasar chip akselerator AI, komponen vital dalam pengembangan dan pengoperasian model AI. Namun dominasinya menarik sorotan regulator. Tahun lalu, Departemen Kehakiman AS sempat menyelidiki potensi pelanggaran antimonopoli oleh Nvidia. Trump bahkan pernah melontarkan wacana untuk memecah Nvidia guna meningkatkan persaingan, meski mengakui sulit bagi rival untuk menyamai langkah cepat perusahaan ini.
Kesepakatan Nvidia–OpenAI menambah daftar perjanjian pusat data berskala besar tahun ini. OpenAI bersama Oracle Corp sebelumnya berkolaborasi membangun kapasitas pusat data 5 gigawatt, termasuk fasilitas yang tengah dibangun di Texas. Pada Januari, OpenAI, Oracle, dan SoftBank Group Corp mengumumkan rencana investasi US$500 miliar untuk 10 gigawatt daya komputasi dalam empat tahun.
Secara terpisah, Oracle sedang berbicara dengan Meta Platforms Inc untuk menyediakan daya komputasi awan senilai US$20 miliar. Meta juga sedang membangun pusat data besar di Louisiana yang diperkirakan akan menyediakan kapasitas hingga 5 gigawatt. Didukung oleh setidaknya US$29 miliar dalam pendanaan.
Sementara itu, Microsoft juga meningkatkan investasi besar-besaran di infrastruktur AI. Perusahaan itu baru-baru ini mengumumkan kontrak multiyear hampir US$20 miliar dengan Nebius Group NV, serta rencana menyewa US$6,2 miliar daya komputasi AI di Norwegia. Hanya dalam kuartal September, Microsoft menyebut akan menghabiskan US$30 miliar untuk memperluas jaringan pusat datanya.
Di tengah gencarnya investasi ini, kekhawatiran soal potensi gelembung pasar AI semakin menguat, mirip dengan era ledakan dot-com. Altman sendiri bulan lalu mengakui adanya risiko gelembung, namun menekankan bahwa nilai transformasional AI bagi ekonomi akan tetap besar, sementara yang paling berisiko hanyalah startup kecil yang dinilai terlalu tinggi.
(bbn)































