Gelombang reli harga SUN sudah berlangsung beberapa hari terakhir dan makin memuncak ketika Bank Indonesia tak terduga kembali menurunkan suku bunga acuan ke level 4,75% kemarin.
Paparan Gubernur BI Perry Warjiyo yang menandai penegasan posisi kebijakan bank sentral ke depan, menjadi jauh lebih akomodatif dengan melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga, memberi pasar keyakinan bahwa siklus pengguntingan BI rate belum usai tahun ini.
BI diperkirakan akan kembali memangkas bunga acuan sebelum tutup tahun ini sebanyak 25 basis poin, hingga membawa level BI rate ke posisi 4,5%.
"Kami masih melihat ruang bagi BI untuk menurunkan bunga acuan lebih lanjut di sisa tahun ini seiring dimulainya pelonggaran bunga acuan The Fed. BI dapat melanjutkan penurunan hingga tahun 2026 jika ada kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," komentar Jeffrey Zhang, Ahli Strategi Emerging Market di Credit Agricole CIB, dilansir dari Bloomberg News.
Analis Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi menilai, penurunan BI rate sekali lagi di sisa tahun ini ke level 4,5% masih terbuka bila menimbang posisi kebijakan saat ini yang makin fokus untuk mendorong pertumbuhan. Namun, pada 2026, kemungkinan tidak ada lagi penurunan BI rate, menimbang kebijakan fiskal yang lebih agresif lagi.
Hanya saja, investor mencermati keputusan hasil pertemuan Federal Reserve, bank sentral AS, dini hari tadi. Gubernur The Fed Jerome Powell melempar sinyal hawkish dengan adanya proyeksi inflasi PCE tahun depan yang lebih tinggi.
"Ada kemungkinan periode jeda Fed rate akan terulang pada semester pertama tahun depan hingga masa jabatan Powell berakhir kecuali ada sinyal pelemahan pasar tenaga kerja AS," kata Lionel.
Sinyal hawkish Fed menempatkan rupiah dalam eksposur risiko lebih besar pada tahun depan, terlebih dengan selisih antara BI rate dan Fed fund rate yang tinggal 50 bps.
Jelang tengah hari ini, rupiah tertekan di pasar offshore menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terdalam kedua di level Rp16.500/US$. Mayoritas mata uang Asia tertekan oleh dolar AS, terimbas sinyal hawkish Powell yang juga memicu aksi jual obligasi AS.
Sedangkah IHSG masih bertahan di zona hijau dengan penguatan 0,31% di level 8.051.
Sinyal Powell
Pada pertemuan FOMC yang diumumkan hasilnya dini hari tadi, kebijakan bank sentral paling berpengaruh di dunia itu sesuai dengan ekspektasi pasar yakni penurunan suku bunga Fed rate sebesar 25 basis poin.
Namun, sinyal yang dilempar oleh Gubernur The Fed Jerome Powell menunjukkan gelagat lebih hawkish ke depan. Powell mengindikasikan ia masih memegang pendekatan yang berhati-hati dengan menimbang risiko inflasi.
Powell bilang, ia siap melonggarkan kebijakan demi mencegah pemburukan pasar tenaga kerja yang menurutnya tidak lagi dianggap 'sangat solid'. Namun, ia menggarisbawahi bahwa The Fed masih jauh dari beralih ke mode pemadam kebakaran. Ia mengatakan, otoritas masih perlu memastikan bahwa tarif Trump tidak memicu lagi inflasi dan bahwa pengambil kebijakan akan memantau situasi pada setiap pertemuan ke depan.
Komentar Powell itu mengerek lagi yield US Treasury tenor 2 tahun hingga 5 basis poin ke level 4,55%. Dolar AS juga kembali melejit.
Dot plot terbaru menunjukkan dua pemangkasan bunga acuan terjadi lagi tahun ini dan satu kali pada 2026. "Ini bukan hawkish, tapi lebih hawkish dari yang diharapkan oleh pasar," kata Bret Barker, dari TCW Group. "The Fed tidak benar-benar memvalidasi harga pasar. Kuncinya adalah Powell masih menggambarkan ini sebagai bagian dari manajemen risiko. Mereka tidak mengisyaratkan serangkaian pemangkasan ke depan," jelasnya.
(rui)



























