Untuk luka yang lebih serius, seperti luka dalam, amputasi, atau trauma kuat, persentasenya lebih kecil — sekitar 17,7% dari hewan yang terluka.
Persebaran & Demografi
Mayoritas hiu paus yang terobservasi adalah jantan muda dengan panjang sekitar 4–5 meter.
Sebagian besar pengamatan ditemukan dekat bagan, di mana hiu paus biasa mencari mangsa seperti ikan kecil (anchovies, herrings, sprats). Kadang mereka mengisap ikan langsung dari bagan, dan hal ini sering merusak jaringnya.
Sekitar 52,6% dari hiu paus tersebut pernah terlihat kembali (resighted), bahkan ada yang hingga 11 tahun kemudian.
Ancaman & Potensi Solusi
Para peneliti menyatakan bahwa seiring semakin banyaknya kapal wisata dan peningkatan interaksi manusia‐laut, risiko luka akan meningkat jika langkah proteksi tidak segera diambil.
Beberapa solusi yang disarankan:
1. Memodifikasi desain bagan agar tidak memiliki bagian tajam (seperti rangka jaring atau bingkai yang membahayakan).
2. Mengatur jarak operasi kapal wisata dari area yang sering dilewati hiu paus.
3. Mengedukasi nelayan dan operator wisata agar lebih berhati-hati terhadap lingkungan laut dan fauna laut.
Mengapa Ini Penting?
Hiu paus dikategori sebagai terancam dalam daftar IUCN karena populasinya menurun drastis, lebih dari 50% secara global dalam 75 tahun terakhir dan hingga 63% di wilayah Indo-Pasifik.
Hiu paus butuh waktu panjang menuju kematangan seksual (sekitar 30 tahun), sehingga pemulihan populasi sangat lambat jika banyak individu muda yang cedera atau terancam.
Bentang Laut Kepala Burung adalah salah satu pusat keanekaragaman laut terbesar di Indonesia, dengan banyak kawasan konservasi laut, sehingga pelestarian hiu paus juga penting dari sisi ekowisata dan manfaat ekonomi lokal.
(dec/spt)































