Hery menambahkan bahwa Bank BRI memiliki strategi ketat untuk menjaga rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap terkendali, da;a, kaitan dengan pengalihan anggaran negara dari Bank Indonesia (BI) ke Himbara senilai Rp200 triliun yang dikatakan bisa digunakan untuk turut mendukung pembiayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Menurut Hery, prinsip utama dalam penyaluran kredit adalah memastikan dana yang disalurkan dapat kembali. Oleh karenanya setiap proses kredit selalu melalui tahapan asesmen menyeluruh terhadap kelayakan usaha calon debitur.
"Ya tentunya ada assessment yang baik lah gitu. Kan pemberian kredit kan kita harus tau juga, pada dasarnya kredit kita harus balik kan gitu," kata Hery. "Ini kan bukan CSR [tanggung jawab sosial] gitu, tapi adalah memberikan pembiayaan yang pada dasarnya ada bisnisnya, dan punya bisnis yang potensial yang bisa memberikan revenue, dan itu bisa mencicil."
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengestimasikan serapan dana atau realisasi kredit masyarakat akan berjalan cepat. Purbaya memperkirakan, para industri, khususnya sektor riil akan memanfaatkan fasilitas kredit tersebut selama satu bulan ke depan sejak dana dicairkan ke perbankan Jumat pekan lalu.
Purbaya berkaca pada masa pandemi Covid-19 2021 lalu. Saat itu, pemerintah juga menggelontorkan dana kepada perbankan, yang langsung terserap hanya dalam waktu selama satu bulan.
"Waktu pengalaman 2021 begitu kita injeksi ke sistem, mungkin setengah atau hampir satu bulan sudah mulai kelihatan pembalikan arah kredit. Jadi saya pikir tidak akan lama lagi kita lihat ekonomi yang lebih bergairah," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (16/9/2025).
Purbaya mengatakan, estimasi serapan dana kredit paling lambat akan tersalurkan maksimal dalam waktu empat bulan ke depan.
Dirinya menegaskan bahwa kebijakan tersebut guna membuat Himbara berpikir keras dan masing-masing mencari cara agar dapat menggunakan dana tersebut semaksimal mungkin dalam menyalurkan kredit.
Purbaya menilai jika selama ini pada Himbara kerap dimanjakan oleh berbagai aset investasi yang likuid, atau yang memiliki tingkat keuntungan (return) yang cukup tinggi.
"Saya suruh mereka berpikir sendiri. Mereka kan orang-orang pinter. Cuman selama ini males, karena bisa naruh di tempat yang aman, nggak ngapain-ngapain, dapat spread yang cukup, untung gede," tutur dia.
(prc/wep)






























