Banyak orang lebih memilih menahan sakit, menggunakan cara tradisional, atau sekadar mengonsumsi obat pereda nyeri. Begitu rasa sakit hilang, mereka umumnya tidak melanjutkan pemeriksaan ke layanan kesehatan.
Akibatnya, banyak kasus baru mendapat perawatan ketika kondisinya sudah parah. Misalnya gigi mengalami gangren, kerusakan parah hingga tidak bisa diselamatkan, dan akhirnya harus dicabut. “Padahal gigi ini idealnya bisa bertahan hingga usia lanjut, setidaknya 20 gigi masih ada saat seseorang memasuki masa lansia,” jelas Nadia.
Ia juga menyoroti rendahnya literasi kesehatan gigi masyarakat. Pola konsumsi manis, terutama pada anak-anak yang terbiasa diberi permen tanpa kontrol, menjadi salah satu faktor utama tingginya kasus karies.
Kebiasaan ini tidak diimbangi dengan perilaku menyikat gigi yang benar, baik dari segi cara maupun waktu, sehingga risiko gigi berlubang semakin besar.
Nadia menambahkan, masalah gigi seharusnya tidak dianggap sepele karena bisa berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup.
Ia mengingatkan pentingnya memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang sudah tersedia tanpa harus menunggu ulang tahun, serta mendorong masyarakat untuk lebih peduli merawat gigi sejak usia dini.
(dec/spt)






























