Logo Bloomberg Technoz

Menurut dia, jika pengadaan teknologi tersebut dipaksakan hanya berasal dari Rusia, pengerjaan proyek GRR tersebut akan memakan waktu yang sangat lama.

Investor Lain

Untuk itu, Hadi mendorong agar PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menggaet investor asing dari negara lain dalam membangun Kilang Tuban. Jika tidak, dia bahkan meragukan proyek tersebut bisa segera dilakukan pembangunan.

“Rusia akan sulit mendapatkan dukungan finance, technology, dan system yang terintegrasi untuk membangun Kilang Tuban ini. Kalau dipaksakan dengan teknologi buatan Rusia sendiri, akan berlarut larut dan mungkin lama sekali pembangunannya baru selesai,” tegas Hadi.

Untuk diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan terdapat investor asing lain yang berminat masuk ke proyek Kilang Tuban selain perusahaan asal Rusia, PJSC Rosneft Oil.

Akan tetapi, Kementerian ESDM memilih untuk tetap memprioritaskan Rosneft dalam proyek tersebut sebab raksasa migas Rusia itu dijanjikan memulai tahap FID.

“Kita evaluasi dulu ya, karena banyak yang mau masuk. Rosneft-nya masih tetap untuk bisa kepemilikannya di situ,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman ditemui awak media di Kementerian ESDM, dikutip Kamis (11/9/2025).

Laode juga menegaskan sanksi yang diancamkan oleh UE dan AS terhadap perbankan dan perusahaan energi Rusia tidak memengaruhi proses penjajakan investasi Rosneft yang dilakukan di Tanah Air.

Terlebih, kata dia, Presiden Prabowo Subianto telah membahas kelanjutan investasi tersebut dengan Presiden Rusia Vladimir Putin ketika melakukan kunjungan kenegaraan di Istana Konstantinovsky, St. Petersburg pada Juni.

Adapun, UE tengah menyiapkan paket sanksi baru terhadap Rusia. Paket sanksi itu, akan menjadi sanksi ke-19 yang diberikan ke Rusia.

Blok mata uang tunggal salah satunya turut mempertimbangkan sanksi lebih ketat terhadap perusahaan-perusahaan besar minyak Rusia dengan mencabut pengecualian yang saat ini dinikmati beberapa perusahaan seperti Rosneft.

Untuk diketahui, nilai proyek GRR Tuban diprediksi mencapai US$24 miliar atau sekitar Rp391,9 triliun dan dirancang untuk memiliki kapasitas olahan minyak mentah 300.000 barel per hari (bph). Hingga saat ini pembangunan proyek itu masih tersendat lantaran menanti keputusan investasi akhir dari Rosneft.

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) melaporkan proyek Kilang Tuban masih dalam fase pengembangan yakni pembukaan lahan sebelum keputusan FID yang ditargetkan pada kuartal IV-2025 tuntas.

“Saat ini di lapangan sudah selesai tahapan land clearing. Untuk melanjutkan pengerjaan di lapangan masih menunggu FID,” kata Pjs. Corporate Secretary KPI Milla Suciyani kepada Bloomberg Technoz, medio Juli.

Setelah FID, megaproyek kilang yang digarap oleh anak usaha raksasa migas Rusia melalui usaha patungan bersama PT Pertamina (Persero) itu akan memasuki tahapan engineering, procurement, and construction (EPC).

Sekadar catatan, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto bahkan mengklaim FID Rosneft di Kilang Tuban bakal tuntas pada Agustus 2025. Akan tetapi, target tersebut akhirnya kembali meleset.

Sebelumnya, padahal, FID proyek tersebut molor dari target yang ditagih Kementerian ESDM pada tahun lalu.

Adapun, Pertamina melalui anak perusahaannya, KPI menguasai 55% saham PRPP, sedangkan 45% sisanya dikuasai oleh afiliasi Rosneft di Singapura, Rosneft Singapore Pte Ltd (dahulu Petrol Complex Pte Ltd).

(azr/wdh)

No more pages